Gus Dur menertawakan NU?

22.45 Posted In Edit This 0 Comments »

Gus Dur menertawakan NU? Ah, yang bennneeer? Masa iya sih? Bukankah dia seorang kyai? Keturunan pendiri NU dan mantan Ketua Umum PB NU lagi! Nggak mungkin deh dia merendahkan “diri sendiri”!

Eiiit… jangan salah paham dulu donk! Menertawakan bukan berarti menghina loh…! Makanya jangan suka memahami kata secara harfiah! Gus Dur Menertawakan NU adalah buku kumpulan humor tentang NU, kyai dan pesantren, serta Islam dan agama. Jadi, dijamin seribu persen deh NU nggak bakal terlecehkan.

Meskipun Gus Dur—semasa hidupnya tentu saja—menjadikan organisasi kaum nahdliyin ini sebagai bahan kelakar, dia pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon bin guyonan kok. Nggak percaya? Tanya aja langsung si Empunya humor yang sudah almarhum! Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa yang berani protes, hayo…! Jadi ketimbang memprotes judulnya, mendingan nikmati aja lucunya…!!!

DATA BUKU
Judul: Gus Dur Menertawakan NU
Pengumpul naskah: Islahuddin
Penyelaras bahasa: Zulkifli AH
Genre: Humor
Penerbit: Nawas (Kelompok Pustaka Alvabet)
Cetakan: I, Maret 2010
Ukuran: 13,5 x 17 cm
Tebal: 160 halaman
ISBN : 978-602-95392-2-6
Harga: Rp. 27.500
Diskon 10%` Harga Penerbit

Ger-geran Bersama Gus Dur

22.06 Posted In Edit This 0 Comments »

SINOPSIS BUKU - Ger-geran Bersama Gus Dur (Edisi Spesial Mengenang Gus Dur)
Gus Dur telah tiada. Tapi kalau Anda masih juga tak percaya bahwa kelakar-kelakarnya sangat cerdas dan lucu, caba baca petikan ini:

Di depan Kanselir Jerman Helmut Schmidt, Gus Dur bercerita tentang rabbi Yahudi.

“Rabbi itu sudah berumur 85 tahun, dan dia sangat kecewa. Maka mengadulah dia pada Tuhannya. ‘Tuhan, saya sudah 65 tahun mengabdi pada-Mu, sejak usiaku 20 tahun. Tapi setelah mengabdi begini lama, mengapa Engkau mengecewakanku? Mengapa Engkau biarkan anakku masuk Kristen? Tuhan, saya sungguh kecewa.’

“Lalu Tuhan menjawab: ‘Sama, anak saya juga masuk Kristen….’”

Atau, yang ini dech:

Seorang pendeta Hindu, seorang pastur Katolik, dan seorang kiai terlibat diskusi soal siapa yang paling dekat dengan Tuhan.

“Kami, dong!,” kata pendeta Hindu.

“Kok kalian bisa merasa paling dekat dengan Tuhan?” tanya si kiai.

“Lha, iya. Lihat saja, kami memanggil-Nya saja Om,” jawab yang ditanya, merujuk seruan religius Hindu: Om, shanti, shanti, Om.

“Oh, kalau alasannya itu, kami dong yang lebih dekat,” sergah si pastur Katolik. “Lihat saja, kami memanggil-Nya Bapa. Bapa kami yang ada di surga...”

Sang kiai diam saja. Lalu kedua teman bicaranya bertanya, “Kalau Pak Kiai, sedekat apa hubungannya dengan Tuhan?”

“Duh, boro-boro dekat,” jawabnya. “Manggil-Nya aja dari menara, teriak-teriak lagi!”

Gerrrrr…!!! Kalau Anda tetap bilang guyonan Gus Dur nggak lucu, ya terserah! Gitu aja kok repot…!!!

* * *

Pengantar Penerbit yang Tidak Lucu

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah tiada. Tokoh yang satu ini memang luar biasa. Dalam sosoknya melekat banyak ikon: pejuang demokrasi, pembela kaum marginal, pluralis, kontroversial, dan tentu saja humoris—sudah pasti masih banyak lagi ikon lain yang melekat padanya. Tak ayal lagi, kepergiannya akan dikenang sepanjang masa oleh segenap anak bangsa.

Banyak orang mengenang Gus Dur dengan berbagai cara. Baru beberapa hari wafat, para politisi berusaha mengenangnya dengan usulan gelar pahlawan nasional—dasar politisi ya, suka memanfaatkan peluang alias momentum, oportunis sejati melebihi pengusaha. Para pengikut (umat) Gus Dur lebih sreg berdoa sambil berisak tangis di sisi makamnya. Jurnalis televisi tentu memutar kembali tayangan dialog atau wawancara bersama sang Guru Bangsa semasa hayatnya. Ada nggak ya yang ingin mengenang Gus Dur dengan membuat tugu patungnya? Kayak patung Obama di Menteng itu loh, wkwkwkwk….

Nah, kami, kaum pekerja buku alias penerbit, lebih suka mengabadikan Gus Dur dengan sebuah buku. Dan, sosok Gus Dur yang humoris sepertinya lebih enak dikenang ketimbang sosoknya yang lain: sisi kontroversialnya, misalnya. Kami yakin, “melempar” kembali kelakar-kelakar Gus Dur ke hadapan pembaca akan terus menghidupkan sosoknya di mata masyarakat. Bukan hanya karena humor selalu membuat orang senang, tapi juga lantaran kelakar Gus Dur memang berbobot, benar-benar lain dari humor biasa. Humor-humor Gus Dur tak sekadar kocak dan lucu tapi juga cerdas dan bermutu. Tidak hanya membuat pembacanya atau pendengarnya langsung ger-geran tapi juga menyuburkan pikiran.

Buku Ger-geran Mengenang Gus Dur merupakan gabungan dari dua buku yang pernah kami terbitkan secara terpisah, Gitu Aja Kok Repot! (2000) dan Saya Nggak Mau Jadi Presiden, Kok…! (2001). Dalam edisi spesial mengenang Gus Dur ini, kedua buku tersebut kami satukan, berharap pembaca lebih utuh dan lebih lengkap menikmati kelakar-kelakar Gus Dur. Selamat tertawa, tapi jangan menertawakan Almarhum Gus Dur ya! Bahayyyaaa…!!!

Selamat jalan, Gus!

Ger-geran Bersama Gus Dur (Edisi Spesial Mengenang Gus Dur)
Penerbit : Nawas
Pengarang : Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan
Halaman : 216 hal.
ISBN : 978-602-95392-1-9
Harga ; 29.800.
Diskon ; 10% harga Sesuai Penerbit

The Compassionate Samurai

21.54 Posted In Edit This 0 Comments »

SINOPSIS BUKU
The Compassionate Samurai

Ada dua jenis manusia. Pertama, mereka yang baik dan penuh perhatian tapi tak mampu mewujudkan apa pun. Kedua, mereka yang dapat mewujudkan segala sesuatu—merekalah sang kreator, penggagas, dan pembangun yang agresif di masyarakat. Namun mereka acapkali egosentris, tamak, dan tak berperasaan.

Sang Samurai Pengasih (The Compassionate Samurai) adalah perpaduan kedua jenis manusia tersebut. Dialah sosok individu yang tegas, efektif, sekaligus terhormat dan baik budi. Bukankah menyenangkan bila Anda dapat mewujudkan hal-hal besar dengan cara yang mulia tanpa kehilangan integritas Anda?

Buku ini menyuguhkan berbagai cara jitu untuk menghasilkan hal-hal luar biasa dalam hidup. Di dalamnya Anda akan menemukan:

* Bagaimana agar dapat selalu bersemangat dalam situasi apa pun.
* Mengapa hanya sedikit yang mempunyai kebebasan, padahal semua orang memiliki kemerdekaan.
* Apa saja yang menghalangi Anda untuk mewujudkan keinginan Anda.
* Cara untuk fokus sembari tetap bersenang-senang.
* Rahasia bisa bekerja optimal di lingkungan yang kurang mendukung.
* Rahasia dapat beralih dari kekurangan menuju keberlimpahan, sekalipun posisi Anda sedang terlilit utang.


* * * * *

”Samurai adalah anggota kasta ksatria Jepang yang mulai berkuasa pada abad ke-12 dan mendominasi pemerintahan sampai 1868. Mereka terkenal sebagai ksatria paling ditakuti dan dihormati pada masanya, juga termasyhur pandai mengendalikan hawa nafsu dan sama sekali tak terpengaruh keadaan sekitar. Para ksatria itu hidup berlandaskan nilai-nilai amat ketat—selanjutnya dikenal sebagai Bushido—yang mengutamakan keberanian, kehormatan, dan kesetiaan pribadi.

Bushido secara harfiah bermakna “jalan ksatria”. Dan karena itu, konsep “samurai yang baik hati” kelihatannya mengandung pertentangan. Padahal kata samurai sendiri berarti “melayani”. Pada hakikatnya, keinginan orang yang demikian adalah menolong orang lain. Jadi, saya memperluas aspek ini dengan membuat istilah samurai pengasih untuk menunjuk seseorang yang memiliki nilai-nilai kuat, yang dapat mewujudkan apa pun sekaligus mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani.”

—Brian Klemmer


Penulis: Brian Klemmer Review: nilai Terbit : Juni 2009 Penerbit: Pustaka Alvabet ISBN: 978-979-19xxx Ukuran: 15 x 23 Cover: SC Halaman: 250 / Berat Buku: 450 gram Stock : Tersedia Belum Ada Resensi Harga : 49.000

WACANA FUNDAMENTALISME DAN HMI MPO

20.04 Edit This 0 Comments »
WACANA FUNDAMENTALISME DAN HMI MPO

Javid ‘Sulyus’ Karbelani

Gerakan-pemikiran fundamentalisme bisa dijinakkan secara intelektual, dan intelektualisme yang liberal bias menemukan basis normatifnya oleh pemahaman yang fundamentalis.


Wacana Fundamentalisme-Neo Fundamentalisme (Pra-Modern dan Kontemporer) sebagai suatu istilah seperti yang telah dituliskan pada jurnal ini sebelumnya, dalam banyak hal dan sudut pandang, sering juga diberikan padanan istilah lain, yaitu Revivalisme (Paham Kebangkitan). Sehingga, ketika kita berbicara tentang Revivalisme Islam, maka sesungguhnya yang dimaksud adalah bangkitnya kaum Fundamentalisme Islam .
Memasuki abad ke-15 H, sering dinyatakan sebagai abad kebangkitan umat Islam, tepatnya ketika sejumlah Negara Islam dalam Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam I pada tahun 1969 di Rabbat, Maroko, dimana KTT tersebut memutuskan sebagai abad kebangkitan Islam. Mengapa KTT itu dijadikan momentum?
Setidaknya, menurut Asep Syamsul, seperti yang dipaparkan oleh Sulhan Yusuf, bahwa ada dua yang melatarinya. Pertama, ada semacam keyakinan di kalangan umat Islam bahwa kejayaan suatu umat atau bangsa akan terjadi bergiliran selama kurun waktu tujuh abad. Umat Islam telah berjaya selama tujuh abad pertama hijriah, yang kemudian jatuh dan digantikan umat lain (Barat). Setelah tujuh abad kejayaan Barat (VII-XV), maka mulai abad XV merupakan ”giliran” umat Islam berjaya kembali. Keyakinan boleh merupakan “tafsiran” atas QS.3:140, “Demikianlah hari-hari (kebangkitan dan kejatuhan) kami pergilirkan di antara umat manusia…”. Dengan demikian, pergiliran “bangkit dan jatuh” suatu kaum merupakam sunnatullah.
Kedua, memasuki abad ke XV ada peristiwa besar yang mengguncang dunia Islam, yakni dibakarnya mesjid al-Aqsa di Yerussalem oleh kaum Yahudi pada 21 Agustus 1967. Peristiwa tersebut menggemparkan sekaligus membuat marah, dan peristiwa itulah yang melahirkan suatu perasaan yang mendalam di kalangan umat Islam sedunia.
Giliran issu dan gagasan kebangkitan inipun menjalar masuk ke Indonesia, sehingga seorang Fazlur Rahman – sosok intelektual Muslim kaliber internasional asal Pakistan— pun mengatakan bahwa kebangkitan Islam telah dimulai di Indonesia. Dan cendekiawan Muslim Indonesipun dalam hal ini Muhammad Natsir segera menegaskan bahwa kebangkitan umat Islam di Indonesia akan dimulai dari tiga tempat, yaitu; pesantren, masjid dan kampus
Selanjutnya, rasa percaya diri umat Islam pun semakin nampak – termasuk pengaruhnya terhadap umat Islam yang ada di Indonesia—setelah peritiwa spketakuler terjadi pada tahun 1979, di belahan bumi Timur Tengah, yaitu suksesnya Revolusi Islam Iran di bawah komando Imam Khomaeni.
Bagi kaum muda Muslim di Indonesia, nafas kebangkitan Islam ini pun terasa sangat berpengaruh. Sehingga kaum muda Muslim pun ambil bagian dalam proses-proses kebangkitan ini. Maka tidaklah mengherankan jikalau pada paruh tahun 1980-an lahirlah fenomena baru berupa hadirnya sejenis gerakan yang cukup fenomenal, yang dalam peristilahan Sulhan Yusuf disebut sebagai Gerakan Religi.
Sebagai bahan pemikiran, saya kutipkan sebagai berikut:

“Bagi kaum muda mahasiswa , telah lahir pula fenomena baru sejak dekade 80-an hingga 90-an, dalam wujud Gerakan Religi, dengan konotasi pada terjadinya pencerahan pemikiran di kalangan kaum muda mahasiswa. Tema dasar dari gerakan ini adalah upaya untuk senantiasa menegentalkan kembali semangat religiusitas (keberagamaan) yang hampir lepas, dikarenakan oleh gencarnya injeksi dari proses sekularisasi terhadap kaum terpelajar sejak pertama kali mengecap pendidikan dasar, hingga ke pendidikan tinggi. Fenomena ini terjadi hampir secara umum berlaku di kalangan semua pengikut agama. Indikasi-indikasinya dapat dilihat pada adanya keinginan untuk mempelajari persoalan-persoalan keagamaan di kampus yang nota bene pendidikan umum (non-agama). Difungsikannya tempat-tempat kuliah di beberapa ruangan kampus misalnya tempat kebaktian bagi kaum muda mahasiawa Kristiani, atau pengoptimalan fungsi masjid-mushallah kampus sebagai tempat pengkajian aneka ragam persoalan agama Islam, yang diikuti oleh kaum muda Muslim secara serius, adalah hal yang tak boleh dinapikan sebagai salah satu sisi gerakan yang sementara berlangsung di kalangan kaum muda mahasiswa.”

Latarbelakang apa yang menyebabkan bangkitnya semangat religiusitas di kalangan kaum muda mahasiswa itu, khususnya di kalangan kaum muda-mahasiswa Muslim. Apa semangat itu datang begitu saja secara tiba-tiba? Kita ikuti paparan lebih lanjut seperti yang ditulis oleh Sulhan Yusuf:

”Sesungguhnya, apa yang terjadi pada saat ini di kalangan kaum muda mahasiswa Muslim itu, tidak bisa dilepaskan dari adanya pengaruh gerakan Islam secara mondial. Gerakan yang dimotori oleh aktvis-aktivis Jamiat Islami di Pakistan, Ikhwanul Muslimin di Mesir, maupun kesuksesan Revolusi Islam di Iran, telah memberikan kontribusi yang cukup banyak terhadap terjadinya proses kontinutas gerakan religi, yang bersifat pencerahan pemikiran sekaligus pencerahan spiriutual. Olehnya, tidaklah mengherankan jikalau kaum muda mahasiswa Muslim terpelajar, disamping menekuni buku-buku pelajarannya, juga menjadikan tulisan-tulisan dan buku-buku semisal Abu ‘Ala al-Maududi, Syed Ahmad Khan, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Yusuf Qardhawi, Murtdha Mutahhari, Muhammad Husaini Bahesti, Javad Bahonar, Imam Khomaeni dan Ali Syariati, sebagai rujukan pergolakan-pergolakan pemikirannya dan juga keresahan-keresahan spiritualnya, dalam merakit rintisan langkah awal menuju ke suatu proses pencerahan pemikiran-spiritual.”

Konteks HMI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai salah satu dari gerakan kaum muda Muslim terbesar dan paling berpengaruh, pun tidak luput dari pengaruh gagasan akan kebangkitan Islam ini. Sehingga pada kepengurusan Abdullah Hahemahua, sebagai Ketua Umum Pengurus Besar HMI (l979-1981), gagasan kebangkitan Islam ini menjadi topik yang akatual di HMI. Sehingga, di HMI sendiri terjadi proses Islamisasi, tepatnya adalah ideologisasi Islam.
Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai paradigma gerakan HMI, pun tidak bisa luput dari pengaruh gagasan kebangkitan Isdlam ini. Sehingga menurut Hasanauddin M.Saleh, perlakuan terhadap NDP terjadi perbedaan antara sejak diputuskannnya pada Kongres ke-9, 1969 di Malang – sebagai tafsir asas HMI—hingga 1980-an dan sesudah tahun 1980-an. Saya kutipkan hasil risetnya:

“NDP menjadi pedoman dasar gerakan Islamisasi di HMi sampai dengan tahun 1980-an. Akan tetapi, terdapat perbedaan perlakuan terhadap NDP antara HMI tahun 1960-an dan 1970-an dengan HMI tahun 1980-an. HMI sebelum tahun 1980-an memperlakukan NDP sebagai satu pokok bahasan dalam latihan kepemimpinan HMI. Itupun masih dilihat secara filosofis, belum ada upaya merumuskan dalam tindakan operasional, sehingga Islamisasi pada masa ini masih dalamn strata keinginan yang belum terwujud. Perlakuan terhadap NDP itu berbeda dengan HMI tahun 1980-an. Pada masa ini semangat mengintergrasikan nilai-nilai yang terumus dalam NDP ke dalam seluruh aktivitas HMI secasra organisatorios maupun terhadap prilaku anggota-anggota HMI secara individual cukup besar. Hampir semua materi latihan di HMI merupakan bagian penjabaran NDP. Akan tetapi, sebenarnya bukan kajian terhadap NDP itu sendiri yang sangat berpengaruh terhadap gairah keislaman yang sangat tinggi pada komunitas HMI, melainkan sentuhan mereka secara langsung dengan semangat keislaman yang tengah berkembang di Indonesia, bahkan di dunias Islam.”

Akibat lebih jauh dari proses ini adalah munculnya kritikan terhadap NDP.Tulisan Syafinuddin al-Mandari telah merekam dan memaparkan bagaimana dinamika intelektual itu terjadi. Yang pada dasarnya, kritikan itu berkisar pada pembahasan yang menyeluruh terhadap pokok-pokok pikiran yang ada dalam NDP, seperti; pembahasan tentang Dasar-Dasar Kepercayaan, Konsepsi Ilmu Pengetahuan, sistem sosial.
Gelombang studi kritis terhadap NDP tersebut, pada akhirnya melahirkan rekomendasi untuk melakukan penyempurnaan di bidang perkaderan. Walhasil, pada tahun 1983 dilaksanakanlah lokarya perkaderan di Surabaya, dan pada tahun 1984 diformalkan secra nasional, yang menghasilkan pola perkaderan dengan muatan Islamisasi yang cukup dominan, baik pada tataran landasan maupun materi-materi trainingnya.
Sesungguhnya usulan perubahan dalam artian penyempurnaan terhadap NDP, bukanlah suatu aksi sepihak dari tuntutan kader-kader HMI yang terpengaruh oleh gagasan-gagasan kebangkitan Islam, yang menginginkan adanya Islamisasi ideologisasi Islam di HMI. Seorang Nurcholis Madjid yang dianggap sebagai tokoh yang sangat berperan dalam merumuskan NDP, juga telah menganjurkan agar supaya NDP itu diubah dalam pengertian dikembangkan. Nurcholis Madjid menuturkan:

“Saya disebut-sebut sebagai orang yang merumuskan NDP (sekarang NIK), meskipun diformalkan oleh Kongres Malang. Itu terjadi 17 tahun lalu. Jadi artinya sebagai dokumen organisasi, apalagi organisasi mahasiswa, maka NDP itu cukup tua. Oleh Karena itu, ada teman yang berbicara tentang NDP dan kemudian mengajukan gagasan misalnya untuk tidak mengatakan mengubah—mengembangkan dan sebagainya, maka saya selalu menjawab, dengan sendirinyamemang mungkin untuk diubah, dalam arti dikembangkan. Values (nilai-nilai) tentu saja tidak berubah-ubah. Kalau di situ misalnya ada nilai Tauhid, tentu saja tidak berubah. Akan tetapi pengungkapan dan tekanan pada implikasi itu bias diubah. Sebab sepanjang sejarah, Tauhid pun tetap wujudnya sama, yitu paham pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi tekanan implikasinya itu berubah-ubah…Jadi artinya implikasi dari Tauhid itu bias berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Sebab itu, juga menyangkut masalah interpretasi. Pengungkapan nilai itu sendirimemang tidak mungkin berubah, tetapi harus dipertahankan apalagi nilai seperti Tauhid. Akan tetapi karena ada kemungkinan mengubah tekanan, implikasinya, maka ada ruang dan kesempatan dengan sendirinya untuk suatu dokumen semacam NDP. Tidak hanya namanya saja diubah NDP ke NIK. Dan itu adalah tugas/pikiran yang sah dari adik-adik disini. Maka dari itu saya persilahkan kalau misalnya memang ada yang ingin menggarap bidang ini.”

Bersamaan dengan menguatnya tuntutan akan Islamisasi atau ideologisasi Islam di HMI, hadirlah lima paket UU yang dikeluarkan oleh rejim despotik ORBA. Keharusan HMI untuk merubah dan me3nerima asas Pancasila berakibat fatal, karena menyebabkan HMI terpecah menjadi dua kubu, yaitu HMI DIPO (Diponegoro, inisial karena bersekretariat di jalan Diponegoro Jakarta dan HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi). Yang pada akhirnya, HMI DIPO menerima asas Pancasila – meski setelah reformasi asasnya kembali ke Islam, sedangkan HMI MPO tetap mempertahankan asas Islamnya.
Sebagai konsekuensi dari perpecahan itu adalah HMI DIPO merubah NDP menjadi Nilai Identitas Kader (NIK), meski kandungannya tidak berubah, tetapi memberi memori penjelas tentang sejalannya, dalam artian tidak adanya pertentangan antara Islam dan Pancasila. Tetapi pada konteks ini, satu pertanyaan krutis sering dan amat perlu diajukan, jikalau memang tidak ada masalah dengan asas antara Pancasila dan Islam, mengapa setelah reformasi terjadi, --dan asas tunggal pancasila dianggap menjadi salah satu biang kerok kerusakan di negeri ini – HMI DIPO harus memilih dan menetapkan kembali ke asas Islam ?
Akan halnya dengan HMI MPO, dengan mempertahankan asas Islam, maka konsekuensi yang dihadapi adalah harus berhadapan dengan kekuasaan rejim ORBA. Dan pada saat yang sama gagasan-gagasan kebangkitan Islam mendapat tempat dan lahan yang subur di HMI MPO. Akibatnya adalah NDP pun yang memang sudah banyak dikritik, semakin menemukan kristalisasinya dengan lahirnya Khittah Perjuangan HMI sebagai pengganti NDP.
Pada konteks ini, menjadi jelaslah kerumitan yang dihadapi oleh HMI ketika ada keinginan untuk melakukan rekonsiliasi. Sebab, awalnya memang hanya peristiwa politik yang menyebabkan perpecahan, tetapi kemudian berkembang menjadi perpecahan kelembagaan, yang kemudian masing-masing berjalan dengan sistem penjelas yang dirumuskan, agar tetap survive. HMI DIPO merumuskan dan melakukan penyesuan-penyesuan terhadap pola-pola yang dikembangkan oleh penguasa, sedangkan HMI MPO, harus mengeluarkan energi ekstra untuk merumuskan konsep-konsep, pola-pola dan sistem penjelas organisasi.

Khittah Perjuangan: Studi Kritis.

Bagi HMI MPO, Khittah Perjuangan merupakan sumber inspirasi, motivasi dan aspirasi bagi segala aktivitas yang dilakukan oleh organisasi, serta merupakan tafsir integral dari Asas, tujuan dan Independensi. Dan untuk melakukan studi yang memadai, maka kita dapat membagi ke dalam dua tahapan perjalanannya sebagai sebuah konsep. Pertama, sejak terjadinya perpecahan hingga kepengerusan PB HMI, H.Masyhudi Muqarrabin, Periode 1990-1992. Kedua, setelah penyempurnaan hingga saat ini.
Karateristik dari KHittah Perjuangan pada tahap pertama, sering didentifikasi dengan beberapa catatan seperti; muatan-muatan pemikirannya sangat fundanetalis dan terkesan reaksioner. Hal ini menjadi absah saja, sebagai salah satu wujud penegesan eksistensi diri-kelompok, karena: Pertama, pengaruh gagasan-gagasan kebangkitan Islam – tepatnya fundamentalisme Islam – cukup dominan dalam pemikiran-pemikiran kader HMI yang bergabung dalan HMI MPO. Kedua, tekanan dari pihak-pihak eksternal, baik dari penguasa rejim Orba naupun dari kalangan alumni HMI yang tidak setuju dengan HMI MPO, cukup kuat dan tak bersahabat.
Sebagai konsekuensi dari perjalanan konsepsi KHittah Perjuangan ini, dapat kita lihat dari prilaku kader-kader awal HMI MPO, yang menemukan bentuk artikulasinya yang berwatak fundamentalis. Sehingga, model-model interaksi dan pola-pola perjuangan yang muncul kepermukaan menemukan bentuknya seperti halaqah-halaqah atau usro-usro, yang memang menjadi gejala umum gerakan Islam pada masa itu.
Artikulasi dari semagat fundamentalisme ini menjadi sangat tajam ketika semuanya mau di-Islmamisasi-kan. Sebagai contoh: himne HMI diganti dengan nars jihad, adanya keinginan untuk merubah tanggal kelahiran HMI dari kalender masehi ke kalender Hijriah, istilah-stilah pun diganti, dies natalis menjadi milad, saudara-saudari menjadi ikhwan dan akhwat, tatacara bergaul yang dibatasi oleh hijab, pemandu akhwat tidak boleh bicara di depan peserta ikhwan, pakaian jilbab bagi perempuan dan gamis bagi laki-laki, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Perkembangan selanjutnya dari Khittah perjuangan sebagai suatu konsep, ketika memasuki tahapan penyempurnaan, sebagai konsekuensi logis dari semakin luasnya ruang gerak dan makin artikulatifnya potensi para kader. Sehingga diselenggarakanlah lokakarya penyempurnaan Khittah Perjuangan di Yogyakarta. Dan selanjutnya, untuk menjabarkan konsep ini, maka dilaksanakan pula lokakarya penyempurnaan perkaderan di Jakarta, yang kemudian hasil-hasil lokarya tersebut ditetapkan pada Kongres ke-19, 1992 di Semarang.
Dengan adanya Khittah Perjuangan yang baru, sebagai hasil penyempurnaan, maka dengan serta merta nuansanyapun berbeda. Jika diperbandingkan dengan Khittah Perjuangan sebelumnya, maka Khittah Perjuangan yang ada sekarang ini lebih komprehensif dan tidak lagi mencerminkan karakter yang sangat fundamentalistik, apalagi reaksioner.
Terjadinya pergeseran nuansa konsep tersebut menjadi sangat logis, karena: Pertama, pergeseran-pergeran pemikiran di kalangan kader turut mempengaruhi cara memahami realitas yang dihadapi oleh HMI MPO. Kedua, Karakteris dari gagasan-gagasan fundamentalisme yang reaksioner, terasa tidak cukup memadai untuk memberikan jawaban solutif bagi permasalahan keummatan yang lebih komprehensif. Ketiga, bangkitnya kembali taradisi intelektual di HMI MPO, yang memang merupakan trade merk dari HMI sejak masa yang lalu.
Akhirnya, tulisan ini akan diakhiri dengan suatu kesimpulan bahwa dalam perjalanan HMI MPO yang sudah hampir memasuki usia 20 tahun ini telah menampakkan sebuah profil yang lebih komprehensif. Warisan fundamentalisme tidak hilang sama sekali, tetapi mendapat tafsiran baru, maksudnya, fundamentalisme yang begitu garang telah dijinakkan oleh sebuah tradisi intelektual. Sedangkan tradisi intelektual yang begitu liberal di HMI, mendapatkan pijakan normatif yang cukup kokoh. Paling tidak ini tercermin dari profil prilaku kader yang cukup berakhlak tidak secara hitam-putih, dan mereka tidak ketinggalan wacana intelektual. Wallahu ‘alam Bissawab.

ALI SYARIATI: PEMIKIRAN DAN GERAKAN

20.03 Edit This 0 Comments »
ALI SYARIATI: PEMIKIRAN DAN GERAKAN
Javid ‘Sulyus’ Karbelani
Apa yang harus dilakukan ?
Adalah kata kunci dari pemikiran Syariati.
Darimana kita mesti mulai ?
Merupakan point penting dari gerakan revolusioner Syariati.


Bagaimana umat Islam dapat hidup secara layak di dunia Modern? Inilah salah satu pertanyaan sentral yang telah banyak menarik umat Islam sepanjang abad ke-20, demikian kata Steven R. Benson, dalam salah satu artikelnya ketika menulis tentang Ali Syariati dalam kaitannya dengan perubahan sosial. Menjadi menarik kalau saya kutipkan petikan panjang artikelnya, bahwa;
“ Pertanyaan tersebut terkait dengan sejumlah pengalaman modern: industrialisasi, kolonialisme dan neokolonialisme, konsumerisme, kebebasan seks, teknologi angkasa luar, kebebsan berfikir, dan lain sebagainya. Sebagaian menanggapi persoalan tersebut dengan perasaan rendah diri dan malu karena bertahun-tahun terisolasi dalam pengalaman kolonial. Mereka menyaksikan bagaimana kultur tradisional dan agama menjadi penghambat kemajuan masa depan umat Islam, lalu mereka mengambil kapitalisme Barat atau ideologi-ideologi Marxis modern sebagai alat untuk memordernisasikan masyarakat mereka. Sebagian lagi, yang lebih tradisional, memandang semua bentuk kehidupan modern sebagai setan, dan dengan cara apa pun menolak berkompromi dengan pola tatanan modern serta lebih suka mengisolasi diri. Tetapi ada kelompok ketiga yang menempuh jalan berbeda. Mereka menilai eksperimentasi Barat telah gagal, tetapi menyadari perlunya menjadi bagian dari dunia modern. Mereka ingin membangun sebuah kebanggan baru tentang warisan Islam di kalangan Muslim dan menemukan solusi dalam warisan tersebut untuk memungkinkan umat Islam berpartisipasi penuh dalam dunia modern tanpa hanya meniru solusi dunia Barat, dan pada saat yang sama tetap berpegang pada kebudayaan dan keyakinan Islam. Seperti gambaran inilah sosok Dr. Ali Syariati. Dia dididik dalam dua tradisi –Barat dan Islam – dan memiliki kemampuan bertutur yang mengagumkan. Dengan cepat dia membina para pengikut yang sangat bergairah dari kalangan generasi muda Iran yang terdidik. Dengan penguasaan yang seimbang antara khazanah sumber-sumber Barat dan sumber-sumber Islam dan keberaniannya menginterpretasi keduanya secara bebas, dia memberikan jawaban yang tepat bagi krisis budaya di Iran.”
Siapa Syariati ?
Adalah Mazinan, sebuah desa di pinggiran Masyad, di timur laut Khurasan, Iran, yang menjadi saksi tanah tumpah darah pertama dari seorang Ali Syariati. Tepatnya, pada tanggal 24 november 1933, Ali Syariati di lahirkan, dari pasangan Sayyid Muhammad Taqi’ Syariati dan Zahra. Syariati adalah putra sulung dari kedua pasangan keluarga tersebut. Latar belakang keluarganya cukup disegani di desa tersebut, sebagai seorang tokoh spiritual. Sebenarnya, nama asli Syariati adalah Muhammad Ali Mazinanin, tetapi ia merubahnya ketika akan meninggalkan Iran menuju London, pada tanggal 16 mei 1977, guna mengelabui petugas keamanan.
Masa kecil dan remaja Syariati dijalani di desa tersebut bersama dengan sang ayah Dan bagi Syariati, guru pertamanya, yang sekaligus sangat mempengaruhinya adalah ayahnya sendiri. Seperti syariati tuliskan:
“Ayahku membentuk dimensi-dimensi pertama batinku. Dialah yang mula-mula mengajariku seni berfikir dan seni menjadi manusia. Begitu ibu menyapihku, ayah memberikan kepadaku cita kemerdekaan, mobilitas, kesucian, ketekunan, keikhlasan serta kebebasan batin. Dialah yang memperkenalkan aku kepada sahabat-sahabatnya – ialah buku-bukunya; mereka menjadi sahabat-sahabatku yang tetap dan karib sejak rahun-tahun permulaan sekolahku. Aku tumbuh dan dewasa dalam perpustakaannya. Banyak hal yang sebetulnya baru akan kupelajari kelak bila aku telah dewasa, melalui rangkaian pengalaman yang panjang dan harus kubayar dengan usaha dan perjuangan yang lama, tetapi ayahku telah menurunkannya kepadaku sejak masa kanan-kanak dan remajaku secara mudah dan spontan. Aku dapat mengingat kembali setiap bukunya, bahkan bentuk sampulnya. Teramatlah cintaku akan ruang yang baik dan suci itu; bagiku ia merupakan sari masa lampauku yang manis, indah, tetapi jauh.”
Setelah masa-masa remaja dilalui, pada tahun 1950-an, Syariati menjadi Mahasiswa di Primary Teascher’s Training College sambil mengajar. Lalu mulai belajar di Universitas Masyhad. Dan tahun ini juga Syariati menikah. Nanti pada 1958, Syariati meraih gelar BA dalam bahasa Arab dan Perancis, yang kemudian tahun selanjutnya 1959 lulus ke Sarbone University di Perancis. Di Sarbone inilah Syariati mendalami kajian sastra dan sosiologi, dan bertemu serta menelaah karya-karya seperti; Henry Bergson, Jack Berque, Albert Camus, A.H.D. Chandell, Franz Fanon, George Gurwitsch, Louis Massignon, Jean Paul Sartre, dan Jacques Schwartz.
Pada tahun 1963, Syariati menyelesaikan program Doktornya di Sarbone, dengan desertasi yang membincang komentar kritis naskah Persia abad pertengahan Fadha’il Al-Balkh (“Les Merites de Balkh”). Dan setelah itu, Syariati pun kembali ke Iran, bersama isteri dan kedua anaknya guna mengabdi pada negaranya, rakyatnya dan agamanya, Islam. Namun diluar dugaan, begitu Syariati tiba di Bazargan –perbatasan Iran dan Turki – ia ditahan di hadapan isteri dan anak-anaknya dan langsung dipenjarakan. Selama pengasingan di penjara, Syariati tidak diperbolehkan bertemu dengan isteri dan anak-anaknya, termasuk ayahandanya, sang guru pertamanya sekalipun.

Pemikiran Syariati
Pijakan terpenting dari pemikiran syariati adalah terletak pada cara memahami Islam. Bagi Syariati, persoalan cara atau metode menjadi sangat menentukan, karena dengan menggunakan cara atau metode kita dapat memahami Islam secara komprehensif. Salah satu cara atau metode memahami Islam adalah dengan cara melakukan perbandingan. Bagaimana mengenal Allah, dan membandingkannnya dengan sesembahan agama-agama lain. Mempelajari Al-Quran dan membandingkannya dengan kita-kitab lainnya. Mempelajari kepribadian Rasul Islam dan membandingkan beliau dengan tokoh-tokoh besar yang pernah hidup dalam sejarah. Dan terakhir, mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dengan membandingkan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran pemikiran lain.
Bertolak dari asumsi itulah, kita dapat menelusuri pemikiran-pemikran Syariati dalam pelbagi tema, seperti; agama, filsafat, etika, sosiologi, sejarah, sastra dan biografi. Sehingga, dalam berbagai karya Syariati, kita akan menemukan, bagaimana karakter Tuhannya Musa dan Isa di perbandingkan, maupun konsep-konsep Tuhan lain, dengan Tuhannya Muhammad
Demikian juga halnya dengan pemikiran-pemikiran filsafat atau aliran-aliran pemikiran. Bagaimana Humanisme, Marxisme, Eksistensialisme diperbandingkan dengan Islam sebagai mahzab pemikiran. Dalam hal agama pun diperbandingkannya, bahkan secara internal agama Islam, maupun dalam mahzab Islam Syiah yang dianutnya, termasuk ritus-ritus keagamaan yang Syariati anggap keliru. Dan, selanjutnya bagaimana Syariati menulis tentang sosok seperti; Nabi Muhammad dan Imam Ali, Fatimah Azzahra, Imam Husain dan Abu Dzar Al-Giffari , yang tentu masih dalam kerangka perbandingan pemikiran dalam sejarah.

Gerakan Revolusioner Syariati
Ali Syariati pernah berkata, “ Saya memberontak maka Saya Ada”, dan pada bagian lain ungkapaannya yang sangat terkenal, bahkan pada saat revolusi sosial Islam di Iran terjadi, dan ditulis dalam bentuk spanduk dan pamflet, “Setiap hari adalah Assyura dan setiap tempat adalah Karbala.” Meski Syariati tidak sempat menyaksikan jalannya revolusi, tetapi peranannya sebelum rvolusi tidak bisa diabaikan. Bahkan Syariati dianggap sebagai salah seorang arsitek dan ideolog Revolusi Islam Iran.
Mengapa Syariati terlibat dalam gerakan revolusioner? Karena Syariati telah mendefenisikan bahwa bila merindukan perubahan, maka dibutuhkan Raushanfikr (orang-orang yang tercerahkan). Dan rupanya, julukan raushanfikr patut pula diberikan kepada Syariati, karena sang raushanfikr adalah ; individu-individu yang sadar dan tanggungjawab utamanya adalah membangkitkan karunia Tuhan yang mulia, yaitu “kesadaran diri” (khud-agahi) masyarakat. Sebab hanya kesadaran diri yang mampu mengubah rakyat yang statis dan bobrok menjadi suatu kekuatan yang dinamis dan kreatif.
Keterlibatan Syariati dalam gerakan revolusioner, bukan hadir secara tiba-tiba. Tetapi sejak muda ia telah terlibat dalam berbagai macam gerakan revolusioner. Pada tahun 1940-an, Syariati telah bergabung dengan “Gerakan Sosialis Penyembah Tuhan” dan Pusat Penyebaranm Islam” yang didirikan oleh ayahnya. Di tahun 1950-an, Syariati kemudian aktif dalam gerakan rakyat dan nasionalis untuk nasionalisasi industri minuak iran, dan selanjutnya mendirikan “Persatuan Pelajar Islam” di Masyhad. Yang akhirnya di penjara karena aktivitas politiknya.
Memasuki tahun antara 1959-1964, ketika sudah belajar di Sarbone University Perancis, Syariati aktif dalam kehidupan politik di Perancis bersama Mustafa Chamran dan Ebrahim Yazdi, mendirikan Gerakan Kebebsan Iran, di Luar Negeri. Lalu ikut dalam pembentukan Front Nasional Kedua, dan selanjutnya bergabung dengan gerakan Aljazair, yang kemudian dipenjara karena memberikan kuliah kepada mahasiswa revolusioner Kongo.
Pada tahun 1964, Syariati kembali ke Iran, kemudian ditahan di perbatasan dan selanjutnya dipenjarakan selama 6 bulan. Setelah keluar dari penjara, Syariati kemudian mendirikan Husayniah Irsyad, dan menjadikannya sebagai basis pergwrakannya. Dan pada tahun 1972, Husayniah Irsyad menghentikan aktinitasnya, dan selanjutnya Syariati pun ditahan. Kemudian, pada tahun 1975, oraginasisi-organisasi internasional, kalangan intelektual Paris dan Aljazair membanjiri Teheran dengan petisi untuk kebebsan Syariati, akhirnya dibebaskan dari penjara. Tetapi, setelah itu, hingga tahun 1977 dikenakan tahanan rumah.
Setelah dikenakan tahanan rumah, tepatnya pada bulan Mei 1977, Syariati
mampu meloloskan diri ke luar negeri. Setelah mampir di Paris, ia melanjutkan perjalanan menuju London, Inggiris, dengan maksud akan meneruskan perjalanan ke Amerika Serikat Dan sebulan kemudian, Juni 1977, Syariati meninggal secara misterius di rumah kerabatnya, dengan petunjuk-petunjuk kuat bahwa ia telah syahid di tangan Savak.
Berdasarkan harapan dan keingininan Syariati, yang sering diucapkannya, untuk dikuburkan dekat kuburan Zaenab, saudara Imam Husain --yang menyaksikan peristiwa Karbala, dan menyiarkan kesaksiannya – maka jenazahnya di bawah ke Damaskus, Syiria dan dimakamkan di sana. Dan pada tahun 1979, Syariati mendapatkan anumerta atas penerbitan kumpulan karyanya, yang hingga 1986, telah terbit 35 buah buku.
Sayangnya, Syariati hanya hidup dalam waktu yang singkat, 44 tahun. Padahal masih banyak yang dibutuhkan dari pemikirannya dan gerakan-gerakan revolusionernya. Tetapi seperti kata Abdul Aziz Sachedina :
“ Tidak mudah untuk menganalisa pribadi-pribadi seperti Syariati, yang dalam pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatannya tampaknya berdimensi banyak. Adalah merupakan fenomena yang hebat dalam sejarah orang-orang besar bahwa dalam karirnya mereka meninggalkan begitu banyak yang tidak terpecahkan, sehingga orang selalu mengiginkan kiranya mereka dapat hidup sedikit lebih lama guna memecahkan teka-teki yang banyak ini.”

Wallahu alam bissawab
*)Tulisan ini disajikan dalam rangka Training Advokasi BEM FEIS UNM 23 Juni 2007di Benteng Somba Opu. Penulis adalah penggiat di Paradigma Insitut Makassar.

Dari Pluralitas Eksoterik Menuju Kesatuan Esoterik

22.44 Edit This 0 Comments »
Dari Pluralitas Eksoterik Menuju Kesatuan Esoterik
(Diskursus Pluralisme dalam Tinjauan Filsafat Perennial)
Oleh : Sabara Nuruddin al-Raniri, S. HI *)

"Lampu-lampu adalah berbeda, namun cahaya tetaplah sama” (Maulana Jalal al-Din Rumi)

A. Mukaddimah

Sejarah agama-agama di dunia penuh dengan sejarah kelam yang dihiasi dengan berbagai tragika historis atas nama Tuhan. Sakralitas ajaran transenden “dipelintir” dan dipolitisir demi sebuah ambisi kelompok yang diwujudkan dalam bentuk pemberangusan dan pembasmian mereka yang dianggap menyimpang. Inkuisisi, mihnah, dan berbagai tragika sejarah telah menelan korban sekian banyak nyawa manusia hanya karena “satu dosa” menyimpang dari tradisi agama yang dimapankan.
Pola keberagamaan yang ekstrinsik melahirkan sikap keberagamaan eksklusif dan memandang “yang lain” sebagai entitas yang berbeda dan bahkan menyimpang. Karena kejumudan berpikir, agama hanya dipandang dari sisi lahir (eksoterik), dan bahkan sampai pada titik ekstrim agama diidentikkan dengan prilaku-prilaku dan simbolitas eksoteris semata. Dan menafikan sisi esoteris (batin) dari agama yang pada dasarnya merupakan jantung (inti sari) dari agama.
Pluralisme yang diwujudkan dengan sikap toleran, menghargai, membuka ruang dialog dan kerjasama dalam rangka membangun tatanan kemanusiaan yang harmonis akan menjadi mustahil jika agama hanya dipandang dari perspektif eksoteris belaka. Oleh karena itu, filsafat perennial memberikan sebuah pendekatan baru dalam mewujudkan pluralisme di kalangan umat beragama. Yaitu dengan menwarakan pendekatan transhistoris-metafisis untuk memahami kesatuan agama-agama pada ranah esoterik.

B. Selayang Pandang Filsafat Perennial

Istilah perennial berasal dari bahasa Latin, yang kemudian diadopsi ke dalam bahasa Inggris yang berarti kekal, abadi. Berbeda dengan filsafat rasionalis murni, filsafat perennial mendasarkan pengetahuan, keyakinan, dan kecintaan terhadap Tuhan sebagai fondasi bagi pengembangan filsafatnya. Diduga pertama kali istilah filsafat perennial pertama kali diperkenalkan oleh Agustino Steuco (1490-1548), lalu kemudian disebutkan juga oleh Leibniz. Jauh sebelum Steuco, di dunia Timur telah dikenal istilah yang serupa dengan istilah filsafat perennial, yaitu istilah “sanatana dharma” di dunia Hindu, serta dalam sejarah pemikiran Islam “al-Hikmah al-Khalidah” (kebijaksanaan abadi) yang merupakan judul buku dari Ibnu Maskawaih (932-1030). Selanjutnya di abad ke 20 filsafat perennial “dihidupkan” kembali oleh beberapa pemikir kontemporer, seperti Aldoux Huxley, Charles B. Schmitt, dan Huston Smith. Sedangkan di dunia pemikiran Islam kontemporer wacana filsafat perennial dikembangkan, khususnya oleh Sayyed Husein Nasr dan Fritjouf Schoun (Muhammad Isa Nuruddin).
Filsafat perennial atau yang disebut dengan kebijaksanaan universal karena beberapa alasan yang kompleks, secara berangsur-angsur runtuh menjelang akhir abad ke 16 atau awal masuknya zaman renaisance. Itulah sebabnya Emanuel Wora menyebut filsafat perenial sebagai filsafat “yang terlupakan”. Salah satu alasan yang paling dominan dari runtuhnya filsafat perennial adalah perkembangan yang pesat dari filsafat materialis. Filsafat materialis yang menjadi dasar filosofis modernisme telah merubah secara radikal paradigma hidup dan pemikiran masyarakat. Berbeda dengan filsafat perenial yang memandang alams semesta sebagai satu kesluruhan yang tunggal, yang diresapi oleh suatu realitas transenden, dan yang menemukan penjelasannya dalam realitas transenden tersebut. Filsafat materialis memandang bahwa alam semesta didasarkan pada prinsip dan pola yang mekanistik. Oleh karena itu, filsafat materialis sama sekali tidak memberikan tempat bagi realitas transenden yang justru menurut pandangan filsafat perennial menjadi “inti” dari realitas. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, di mana modernisme sampai pada klimaks dan manusia tiba pada “titik jenuh” dari kehidupan yang serba materi dan fana. Kerinduan manusia akan sisi primordialnya akan “memanggil” manusia untuk “menggapai” alam transenden yang abadi. Dan filsafat perennial adalah salah satu jawabannya. Oleh karena itu, ada yang meramalkan hari ini merupakan zaman kebangkitan kembali dari filsafat perennial yang telah “terkubur” selama berabad-abad.
Filsafat perennial, setidaknya dapat didekati dengan tiga sudut pandang, yaitu epistemologis, ontologis, dan psikologis. Secara epistemologis, filsafat perennial membahas makna, substansi, dan sumber kebenaran agama serta bagaimana kebenaran itu berproses “mengalir” dari Tuhan Yang Absolut dan kemudian tampil dalam kesadaran akal budi manusia serta mengambil bentuk dalam tradisi keagamaan yang menyejarah. Sedang dari pendekatan ontologis, filsafat perennial berusaha menjelaskan adanya sumber dari segala yang ada (wujud qua wujud), bahwa segala wujud ini hanyalah nisbi, realitas alam tak lebih dari sekedar jejak, kreasi, maupun cerminan dari Dia (theophany). Sedangkan melalui pendekatan psikologis, filsafat perennial berusaha mengungkapkan apa yang disebut sebagai “wahyu batiniah”, “kebenaran abadi”, atau “sophia perennis” yang terukir di dalam lembaran hati seseorang yang paling dalam yang senantiasa rindu pada Tuhan dan senantiasa mendorong seseorang untuk berpikir dan berprilaku benar. Dengan kata lain, secara psikologis filsafat perennial meyakini pandangan bahwa dalam setiap diri manusia terdapat “atman” yang merupakan pancaran dari “Brahman”.

C. Agama : Antara Dimensi Eksoterik dan Esoterik

Dalam pandangan filsafat perennial, agama terbagi menjadi dua, yaitu dimensi eksoteris dan dimensi esoteris. Dimensi eksoteris agama berkenaan dengan hal-hal yang bersifat lahiriyah, seperti ibadah-ibadah ritual atau syari'at maupun penafsiran literer dari teks suci. Sedangkan dimensi esoteris agama berkenaan dengan realitas batin dari agama yang "keberadaannnya" "berada" di balik dimensi eksoteris dari agama.
Di kalangan penganut agama, termasuk diantaranya Islam, dua dimensi agama tersebut sering dipertentangkan dan diletakkan secara dikotomistik. Hasilnya adalah munculnya kaum skriptualis atau zahiri sebagai kelompok yang lebih menekankan sisi eksosterisme dan cenderung menafikan sisi esoterisme. Sebaliknya, muncul pula kalangan asketik atau batini yang hanya mengejar dimensi esoteris dan melalaikan dimensi eksoteris dari agama. Kalangan zahiri menyebut kalangan batini dengan sebutan syirik dan ghulaw (berlebihan) sedangkan kalangan batini menganggap kalangan zahiri mengalami "kekeringan" spiritual.
Pada dasarnya kedua hal tersebut bukanlah dua hal yang mesti dipertentangkan atau diposisikan secara binerian, sehingga dengan mengakui yang satu meniscyakan penafian terhadap yang lainnya. Keduanya adalah dimensi yang tak terpisahkan dari agama. Eksoterisme adalah "kulit terluar" yang mesti "ditembus" oleh manusia untuk mencapai dimensi esoteris yang merupakan "inti' dari agama. Mencapai dimensi esoterisme hanya bisa dilakukan melalui jalan eksoteris, dan penempuhan jalan eksoterisme akan menjadi sia-sia jika tak mampu mengantarkan kita pada dimensi esoteris. Antara dimensi eksoterisme dan esoterisme dalam agama memiliki hubungan simbiotik yang saling "melekat". Menganggap keduanya saling berkaitan dan tak terpisahkan merupakan cara pandang yang memandang agama dalam perspektif yang universal dan holistik. Namun, perbedaan pada ranah eksoterik semuanya menuju pada tujuan yang sama, yaitu dimensi esoteris, di mana pada ranah tersebut tidak ada lagi partikularitas dan pluralitas dan yang ada hanya universalitas dan ketunggalan.
Gnosticisme sebagai dimensi tersembunyi dari alam semesta dan diri manusia dan esoterisme sebagai inti terdalam dari agama merupakan dua hal yang sama. Mistisisme merupakan dimensi misteri yang mesti disingkap dan jalan yang mesti ditempuh untuk mencapai proses kesempurnaan diri. Banyak diantara para rohaniawan agama yang telah menghabiskan waktu hidupnya untuk berproses menyingkap misteri mistik dan menjalani kehidupan alam mistikal dengan berbasis kekuatan jiwa (akal dan intuisi) dengan berpedoman pada ajaran agama. Dengan menyingkap misteri mistik (esoteris) dari agama maka kita akan tiba pada satu kesimpulan akan kesatuan agama-agama (wahdah al-adyan) pada wilayah esoteris, kendati berbeda pada ranah eksoteris.

D. Prinsip-prinsip Dasar Pluralisme Agama dalam Tinjauan Esoterisme Agama (Dari Pluralitas Menuju Kesatuan)

Dalam membangun konsep pluralisme agama, filsafat perennial mendasarkan pandangannya pada kesatuan dan universalitas esoterik dari semua agama dan ajaran spiritual. Kesatuan universal esoterik tersebut menurut Hazrat Inayat Khan, didasarkan pada sepuluh prinsip fundamen dari seluruh ajaran esoterik agama.Kesepuluh prinsip dasar tersebut menggambarkan secara universal dan prinsipil dari dimensi esoteris alam dan manusia. Dari kesepuluh prinsip esoterik tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa semua agama pada dasarnya mengalami keberangkatan yang berbeda (plural) pada ranah eksoterik menuju kesatuan dalam keabadian universal esoterik.

1. Hanya ada satu Tuhan, abadi, satu-satunya Wujud, tak ada yang eksis kecuali Dia.

Bagi kaum esoterik (mistikus atau sufi), Tuhan adalah sumber dan tujuan dari segalanya, dan "segalanya adalah Tuhan". "Tuhan adalah setiap hal dari segala" (Tuhan sebagai modes existence). Meskipun pada waktu yang bersamaan, dari sudut pandang yang lain, setiap sesuatu "tidak berarti apa pun". Karena keterbatasan akalnya, manusia tak dapat memahami Tuhan sepenuhnya. Yang dapat dilakukan adalah membentuk konsepsi tentang Tuhan bagi dirinya sendiri agar dapat membuat sesuatu yang dapat dipahami dari hal yang tidak terbatas. Tuhan adalah Realitas Sejati (yang nyata), Tugas kehidupan spiritual adalah menjadikan Tuhan sebagai realitas sejati, sehingga bukan semata-mata imajinasi. Hubungan yang terjalin antara manusia dengan Tuhan adalah lebih nyata jika dibandingkan hubungan–hubungan manusia yang lain dengan segala sesuatu yang ada di dunia.
Sesungguhnya pandangan dan gagasan tentang Tuhan adalah sebuah jembatan yang menghubungkan kehidupan yang terbatas dengan realitas yang tak terbatas. Siapa pun yang melewati jembatan ini akan selamat melewati kehidupan yang terbatas menuju kehidupan yang tidak terbatas. Gagasan tentang Tuhan atau pikiran ketuhanan adalah kedalaman kehidupan, kedalaman aktivitas yang kepadaNya seluruh dan setiap aktivitas dihubungkan.
Berbeda dengan kaum eksoterik yang “membatasi Tuhan” hanya dalam doktrin teologinya semata, Kaum esoterik berpandangan, bahwa Tuhan yang ia yakini adalah Tuhan dari setiap keyakinan, dan Tuhan dari semua makhluk, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat pemahaman teologis. Meskipun realitasNya hanya satu, tapi ia disebut dengan banyak nama. Allah, Tuhan, God, Gott, Khuda, Brahma, Baghwan, semua nama ini adalah namaNya. Namun, sesungguhnya dia berada di luar batasan nama. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, kaum esoterik memandang Tuhan adalah "setiap hal dari segala". Kaum esoterik melihat Tuhan di matahari, api, patung, yang disembah sekte-sekte yang berbeda-beda., dan mereka mengenalNya dalam segala bentuk semesta. Tuhan adalah yang lahir dan yang batin, satu-satunya Wujud, Tuhannya kaum esoterik bukan semata-mata keyakinan religius, tetapi juga cita-cita tertinggi yang dapat dibayangkan dan dijangkau oleh manusia.

2. Hanya ada satu guru, pembimbing semua jiwa yang senantiasa membawa pengikutnya menuju cahaya.

Kaum esoteris memahami, bahwa kendati Tuhan adalah sumber segala pengetahuan, inspirasi dan biumbingan. Namun, manusia adalah sarana yang dipilih oleh Tuhan untuk menanamkan pengetahuan, sebagaimana Adam diajar oleh Tuhan perihal nama-nama segala sesuatu yang tidak diketahui oleh seluruh penghuni langit. Dia memberikan kepada seorang manusia yang memiliki kesadaran tentang Tuhan. Orang ini berjiwa matang yang mendapatkan berkah dari surga. Dalam sejarah panjang manusia, Tuhan telah mengutus manusia-manusia pilihan untuk ditugaskan menjadi pembimbing hidup bagi sekalian manusia Dengan kata lain para pembimbing manusia ini adalah manusia pilihan, atau nabi yang muncul dalam berbagai bentuk yanng berbeda-beda. Zoroaster, Lao Tze, Kong Hu Cu, Budha, Rama, dan Kreshna (atau mungkin juga Sawerigading) di satu sisi dan Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad di sisi lain, dan masih banyak lagi yang tidak diketahui oleh sejarah.
Sebenarnya guru sejati bagi kaum esoteris hanya satu, yang disebut dengan gelar kalki autar, “anak Tuhan”, insan kamil, atau berbagai gelar lainnya. Namun, dalam sejarah panjang manusia namanya berbeda-beda dan dia selalu datang untuk membangunkan kemanusiaan dari kesuraman ilusi dan membimbing manusia menuju kesempurnaan. Setiap mereka "bangkit" dari manusia di zaman dan di tempatnya, untuk mengembalikan kesadaran manusia di zamannya yang mulai hilang. Mereka berbahasa dengan bahasa kaumnya dengan risalah dan bimbingan yang dibutuhkan oleh kaumnya.
Perbedaan dikalangan “guru-guru esoterik” tersebut hanyalah pada perbedaan momen dan bahasa yang digunakan, serta nama mereka yang tampil berbeda-beda. Namun, pada intinya risalah mereka berasal dari Yang Satu, dengan kata lain manusia-manusia pilihannya tersebut adalah khalifah Allah di muka bumi yang mewakili setiap zaman dan tempat. Kaum esoterik menyaksikan sisi Ilahi atau Ketuhanan dalam imanensiNya yang maujud di alam semesta, dan baginya kehidupan menjadi penyingkapan sempurna lahir dan batin. Pada saat kita berusaha untuk membangkitkan potensialitas roh bimbingan dalam diri kita, maka kita akan menemukannnya dalam wujud Bodhi satva, guru-guru spiritual, para rasul atau para imam. Roh bimbingan itu akan selalu ada dan dengan cara inilah pesan Tuhan akan disampaikan dari masa ke masa.
Seringkali yang menyebabkan pertengkaran serta peperangan di antara manusia adalah kebergantungan pada guru-guru tertentu (mengakui sebagian dan menolak sebagian yang lain). Masing-masing mereka mengklaim guru yang satu lebih superior ketimbang yang lain dan merendahkan guru-guru yang lain yang dihormati oleh orang-orang yang dari bukan golongannya. Pembeda-bedaan seperti ini tentu saja sama dengan membeda-bedakan manifestasi-manifestasi Ilahi dalam wujud bimbinganNya. Pada dasarnya guru atau mursyid kita hanyalah media atau guide yang mengantarkan kita pada JalanNya, sedangkan guru atau mursyid yang lain juga sama pembimbing bagi orang lain di tempat dan waktu yang berbeda dengan kita. Dan oleh karena itu, klaim superioritas guru kita dengan menafikan guru-guru spiritual yang lain bertentangan dengan ajaran esoterik yang memandang bahwa risalah kebenaran itu satu tanpa mesti membeda-bedakannya.

3. Hanya ada satu kitab suci, manuskrip alam yang sakral, satu-satunya teks suci yang dapat mencerahkan pembacanya.

Kebanyakan orang menganggap, bahwa kitab suci hanyalah buku atau gulungan tulisan tertentu yang ditulis oleh manusia, dan dijaga secara hati-hati sebagai benda suci, diwariskan kepada anak cucu sebagai wahyu Ilahi. Manusia telah sering berperang dan bertikai hanya karena memperselisihkan kitab-kitab ini. Mengakui kitab sucinya dan menolak kitab suci lainnya dan terpecah dalam berbagai agama dan sekte yang saling mengklaim kebenaran tunggal. Dalam pandangan Inayat Khan, para guru sufi (kaum esoterik) telah menghormati semua kitab suci, dan menemukan kebenaran yang sama. Semua kitab suci di hadapan manusrip alam semesta seperti kolam kecil di hadapan lautan.
Bagi mata para penyaksi kebenaran, setiap helai daun adalah sebuah halaman dari sebuah kitab suci yang memuat wahyu Ilahi, dan setiap saat dalam hidupnya dia terilhami oleh pemahaman dari kitab suci semesta ini. Ketika mata jiwa terbuka dan pandangan dipertajam, maka kaum esoterik dapat membaca hukum Ilahi di dalam manuskrip alam. Dan mereka mendapatkan apa-apa yang diajarkan oleh guru-guru kemanusiaan dari sumber yang sama. Mereka mengekspresikan sesuatu yang terekspresikan oleh kata-kata, dan karena itu mereka menjaga kebanaran batin ketika mereka sendiri tak lagi mengungkapkannya.

4. Hanya ada satu agama, jalan kebenaran yang kokoh menuju cita-cita yang memenuhi tujuan hidup setiap jiwa.

Kaum esoterik memiliki toleransi yang besar dan membolehkan setiap orang untuk menempuh jalannya sendiri-sendiri. Mereka tidak membandingkan prinsip orang lain dengan prinsipnya sendiri, tetapi ia membiarkan orang berpikir bebas, karena ia adalah seorang pemikir bebas. Agama dalam konsepsi kaum esoterik adalah jalan yang mengantarkan manusia menuju kepada pencapaian cita-citanya di dunia dan akherat. Karena itu kaum esoterik tidak memperhatikan nama agama dan tempat ia beribadah. Dan semua agama menyampaikan agama jiwanya yangn universal, "aku melihat Engkau di Ka'bah suci dan di kuil berhala kulihat Engkau juga”.
Agama mungkin dimulai di Timur atau di Barat, di Selatan atau di Utara, atau bahkan mungkin di mana saja. Namun, semakin kita berpikir bahwa semua itu berasal dari Yang Satu, menjadi bukti bahwa semua itu adalah ungkapan-ungkapan atas satu agama. Dan agama yang satu itu adalah agama alamiah, yaitu ruh yang menyeluruh dari semua agama. Esoterisme adalah agama hati, agama yang padanya, hal utamanya adalah "mencari Tuhan di dalam hati". Kaum esoterik tidak lagi mempersoalkan apa agama yang dijadikan media, ibadah seperti apa yang dilakukan, dan di tempat ibadah mana dilakukan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana "ketulusan seseorang dalam melakukannya". Hingga akhirnya agama apa pun dapat menjadi tuntunan, ibadah bagaimana pun yang dilakukan di tempat mana pun akan dapat menjadi sarana, bagi pencapaian Tuhan dalam hati manusia. Karena sebagaimana kata Sang Yesus, "Kerajaan Bapa ada dalam hatimu", dan Hadis Nabi saw, "Tuhan bersemayam di hati-hati kaum mukminin". Mesjid, gereja, sinagog, ataupun kuil hanyalah tempat. Shalat, misa, kebaktian, atau sembahyang hanyalah media yang mengantarkan manusia "lepas" dan kemudian "menyelam" menembus dasar hatinya untuk bertemu dengan Tuhan.

5. Hanya ada satu hukum, hukum timbal balik yang dapat dilihat oleh kesadaran yang tidak egois, dan rasa keadilan yang terbangkitkan

Hukum resiprositas atau timbal-balik adalah hukum yang menyelematkan manusia dari ancaman kekuatan yang sangat besar, rasa keadilan dibangkitkan dalam pikiran yang tenang, bebas dari indoktrinasi atau mabuk kekuatan, kekuasaan, harta, atau status sosial. Intinya bagaimana hukum yang mengantarkan manusia pada harmonisasi kehidupan. Kendati agama-agama berbeda dalam ajaran tentang bagaimana manusia mesti berbuat secara harmonis dan damai dengan sesamanya. Berbeda-beda dalam penetapan hukum, namun sesungguhnya semuanya bertemu dalam satu kebenaran, "berbuatlah kepada orang lain, sebagaimana engkau ingin orang lain berbuat terhadap dirimu sendiri".
Resiprositas hukum dan kesadaran dalam ajaran esoterisme. Esoterisme mengarahkan kita pada kedewasaan untuk terbiasa pada berbagai sudut pandang individu. Namun, bukan berarti esoterisme tidak mengindahkan sudut pandang individu. Ia menekankan pentingnya kesadaran, bahwa pandangan kita hanyalah satu sudut pandang belaka dan bahwa kita mesti belajar memandang segala sesuatu dari semua sudut. Spiritualitas menggali perspektif yang lebih semakin luas. Membiarkan diri kita terkungkung dalam sudut pandang sempit kita sendiri tidak akan membawa kita kemana-mana kecuali berputar-putar dalam lingkaran, "bagaikan seekor lalat dalam botol, yang tak dapat keluar". Intinya dalam ajaran esoteriklah manusia dapat membangun harmonisasi kehidupan, untuk itu diperlukan kesamaan pandangan dan kesadaran dalam wilayah fondasional hukum yang tidak memihak pada salah satu sudut pandang saja.

6. Hanya ada satu persaudaraan, persaudaraan manusia yang menyatukan anak-anak bumi "dalam diri" Tuhan

Alam semesta, termasuk diantaranya manusia, berasal dari ledakan besar yaitu ledakan primordial yang luar biasa dari cahaya yang akhirnya terkristal dalam wujud materi. Kaum esoterik memahami bahwa hidup yang memancar dari wujud batin dimanifestasikan ke permukaan dalam bentuk beragam, dan dalam dunia ini manusia adalah manifestasi yang terbaik, karena dalam evolusinya, dia dapat merealisasikan kesatuan wujud ini, bahkan dalam keragaman eksistensi eksternalnya sekalipun. Tetapi ia mencapai tujuan ini yang merupakan satu-satunya tujuan kedatangannya di dunia melalui penyatuan dirinya dengan orang lain. Oleh karena itu, kaum esoterik menyadari kesatuan universal manusia, mereka membebaskan diri dari batas-batas kebangsaan, rasial, dan agama, menyatukan diri dalam persaudaraan manusia yang bebas dari perbedaan status, kelas, keyakinan, ras, bangsa, atau agama, dan menyatukan manusia dalam persaudaraan universal.
Persaudaraan universal tersebut di dasari oleh kesamaan primordial seluruh manusia, sebagai "bagian utama" dari "diri Tuhan". Menurut Inayat Khan, persaudaraan bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dan diajarkan (secara konsepsional), Persaudaraan adalah suatu kecendrungan yang muncul dari hati, yang ditala dengan tangga nada yang tepat.


7. Hanya ada satu moral, yakni cinta yang memancar dari penolakan diri dan merekah dalam prilaku kebajikan

Ada prinsip-prinsip moral yang diajarkan kepada manusia dari bermacam-macam guru dan tradisi yang bermacam-macam dan berbeda satu dengan yang lain. Ada banyak prinsip moral, seperti tetesan-tetesan air yang jatuh dari satu sumber, tetapi hanya ada satu aliran yang berada pada sumber dari segalanya. Dan itu adalah cinta yang memberikan harapan, melahirkan kesabaran, keteguhan, kemurahan hati, toleransi, dan melahirkan semua prinsip moral. Semua perbuatan baik berasal dari tanah cinta hati dan memancar dari cahaya cinta.
Dalam the Heart of Sufism, Inayat Khan menyebukan ada tiga tingkatan moral yang ada pada manusia. Tingkatan pertama adalah moral pertukaran. Yaitu yang dialami oleh seseorang yang menganggap dan melihat perbedaan antara dirinya dan orang lain. Tingkatan moral yang kedua adalah moral keuntungan. Di mana sebagaimana moral pertukaran, manusia mengenal dirinya sebagai entitas yang terpisah dari orang lain dan mengenal orang lain sebagai entitas yang lain. Meskipun demikian, ia melihat tali penghubung yang menghubungkan antara dirinya dengan semua yang lain. Agar bisa memiliki gema kebaikan bagi dirinya, ia memberikan kebaikan untuk kebaikan, dan membalas kebaikan untuk kejahatan. Tingkat ketiga dari hukum moral ada tingkat moral penyerahan. Yaitu ketika perbedaan antara 'milikku" dan "milikmu" dan keterpisahan antara "saya" dan "kamu" menghilang dalam satu realisasi kehidupan. Orang yang telah mencapai tingkat moral penyerahan secara ontologis tidak lagi melihat keterpisahan antara dirinya dengan yang lain, melainkan melihat kesatuan kemanusian dalam Wujud TunggalNya, inilah tingkat moral kaum esoterik.

8. Hanya ada satu objek pujian, keindahan yang mengangkat hati hamba melalui semua aspek, dari yang terlihat menuju yang tak terlihat

Dikatakan. Dalam sebuah hadis bahwa, "Allah itu Indah dan menyukai keindahan". Hadis ini mengekspresikan kebenaran bahwa manusia, yang menerima ruh Tuhan, memiliki keindahan dalam dirinya dan mencintai keindahan, kendati keindahan bagi seseorang belum tentu indah bagi orang lain. Manusia menanamkan rasa keindahan ini saat dia tumbuh, dan menyukai aspek keindahan yang lebih tinggi ketimbang yang rendah. Tetap ketika ia menyaksikan visi tertinggi dari keindahan, yakni yang Maha Gaib melalui evolusi bertahap dari keindahan di dunia yanng tampak, maka seluruh eksistensi menjadi satu visi keindahan tunggal bagi dirinya. Dengan menyadari hal tersebut, kaum esoterik memuja keindahan dalam segala aspeknya. Keindahan yang sejati terletak pada dimensi noumenal yang "berada" di balik sisi fenomenal yang kita cerap oleh indera. Fenomena estetis yang empirik hanyalah sarana bagi jiwa kita untuk mampu "menangkap" gejala keindahan yang luar biasa di balik penampakan empirikal tersebut.
Gerakan alam semesta dari sudut pandang esoteris menjadikan musik sebagai awal dan akhir dari seluruh ritme alam semesta. Perbuatan dan gerakan yang dibuat di dunia yang fenomenal maupun noumenal bersifat musikal. Mereka terdiri dari berbagai vibrasi yang menyinggung bidang eksistensi tertentu. Demikian pula dalam ritme gerakan dan alunan pujian yang dilakukan oleh kaum esoterik untuk memuja Sang Kekasih merupakan alunan musikal yang membentuk ritme syahdu yang mengantarkan jiwa sang sufi untuk lebur dalam alunan ritme kesemestaan yang berporos (berawal dan berakhir) pada Sang Realitas Pemilik Keindahan. Bagi para sufi kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah karakter dasar dari diri kosmik universal. Yang dari ketiga hal ini melahirkan keharmonisan alam semesta.

9. Hanya ada satu kebenaran, pengetahuan sejati tentang wujud kita, di dalam dan di luar, yang merupakan esensi dari segala kebijaksanaan

Rasulullah saw menyatakan, "Kenalilah dirimu, maka kamu akan mengenal Tuhanmu". Pengenalan tentang diri merupakan pengetahuan yang berkembang "di dalam" pengetahuan Allah. Pengetahuan tentang diri menjawab permasalahan-permasalahan seperti, darimana saya? Apakah saya menjadi eksis sebelum saya menjadi sadar tentang eksistensi saya sekarang? jika saya eksis seperti apakah saya?. Pengetahuan tentang diri juga mengajarkan tentang persoalan seputar tujuan apa yang harus kita penuhi? Dan bagaimana mencapai tujuan tersebut?.
Kaum esoterik mengakui pengetahuan diri sebagai esensi agama, ia menemukannya dalam setiap agama, dia melihat kebenaran yang sama dalam setiap agama dan karena itu menganggapnya satu. Karenanya para sufi menyadari perkataan Yesus, "Aku dan Bapaku adalah satu". Walau begitu perbedaan antara makhluk dan pencipta tetap ada, meski secara hakekat tidak inilah yang dimaksud dengan “persatuan dengan Tuhan”. Persatuan ini adalah dalam realitas "kelenyapan' (fana') diri palsu dalam pengetahuan tentang diri yang sejati, yang bersifat Ilahiyah, kekal, dan meliputi.
Pengetahuan yang mendasar tentang diri kita awal dari seluruh kebijaksanaan dalam tindakan hidup kita. Karena dengan mengenal diri kita yang sebenarnya, maka kita akan mengenal hakekat tujuan hidup kita dan cara-cara pencapaiannya. Dalam sejarah perjalanan intelektual manusia, yang paling sering ditekankan oleh para tokoh baik dari Timur maupun Barat, mulai dari Lao Tze, Kresna, hingga Socrates, Isa, dan Muhammad saw adalah pengenalan diri sebagai fondasi dalam pencapaian kebermaknaan, keharmoniasan, dan kebahagiaan hidup.

10. Hanya ada satu jalan, pelenyapan ego palsu ke dalam ego sejati, yang mengangkat ego yang fana' menuju keabadian, tempat segala kesempurnaan

Semua orang yang menyadari rahasia hidup akan memahami bahwa hidup itu adalah satu, namun memuat dua aspek. Pertama, imortal, meliputi, dan hening dan yang kedua adalah mortal, aktif dan maujud dalam keragaman. Keberadaan jiwa dari aspek pertama menjadi tertipu, tak berdaya dan terperangkap dalam pengalaman hidup yang bersentuhan dengan pikiran dan tubuh. Angan-angan akan membuat manusia tak berdaya, terperangkap, dan teralienasi. Ini adalah tragedi kehidupan yang membuat manusia dari berbagai kalangan akan terus menerus dilanda kekecewaaan dan terus menerus mencari sesuatu yang tidak ia ketahui.
Fenomena keterasingan, ketakberdayaan, dan ketakbermaknaan hidup yang telah menghinggapi hampir seluruh manusia yang larut dalam gemuruh ego hawa nafsunya, membuat kaum esoterik yang mengetahui akan dirinya mengambil jalan lain. Para sufi karena menyadari hal ini kemudian mengambil jalan fana' dan dengan bimbingan guru (mursyid) menemukan akhir dari perjalanannya yang sesungguhnya adalah tujuan finalnya. Seperti dikatakan oleh Iqbal, "Aku mengembara mencari diriku sendiri, akulah pengembara dan akulah tujuan".

E. Quo Vadis Pluralisme dalam Perspketif Filsafat (Membangun Konsepsi Pluralisme yang Perennial menuju Tatanan Kemanusiaan Yang Ideal)

Menurut Jalaluddin Rakhmat, pada suatu kesempatan diskusi tentang pluralisme di Makassar, defenisi generik dari pluralisme meyakini bahwa umat agama lain juga berhak untuk mendapatkan keselamtan eskatologis, atau dalam istilah John Hick disebut sebagai pluralisme soteriologis. Sedangkan Muhammad Fathi Osman mengatakan, pluralisme adalah suatu bentuk kelembagaan di mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Makna pluralisme lebih dari sekedar toleransi moral atau koeksistensi pasif. Di satu sisi, pluralisme mensyaratkan ukuran-ukuran kelembagaan dan legal yang melindungi dan mensyahkan kesetaraan dan mengembangkan rasa persaudaraan di antara manusia, baik sebagai pribadi maupun kelompok. Pluralisme menuntut suatu pendekatan yang amat serius terhadap upaya untuk memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua.
Filsafat perennial memberikan suatu pendekatan lain untuk menuju konsepsi pluralisme. Filsafat perennial membangun konsep pluralisme agama dengan menggunakan metode kritis-kontemplatif. Filsafat perennial mendasarkan konsep pluralismenya pada pendekatan trans-historis dan metafisis serta tidak terpaku pada pendekatan akademik historis atau sosiologis belaka. Kearifan sosial yang terbangun dalam bentuk-bentuk sebagaimana yang dipaparkan oleh Muhammad Fathi Osman merupakan implikasi dari pendekatan pemahaman agama yang trans-historis dan metafisis.
Filsafat perennial tidak meyakini bahwa semua agama sama atau tidak menghargai religuisitas yang partikular serta mereduksi praktek-praktek keberagamaan yang eksoterik menjadi tidak bernilai. Apalagi sampai “menelanjangi” identitas dan simbol-simbol lahiriyah agama, karena hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai perennial itu sendiri. Filsafat perennial berpandangan bahwa Kebenaran Mutlak hanyalah satu, tetapi dari Yang Satu itu memancar berbagai “kebenaran” sebagaimana matahari yang secara niscaya memancarkan cahayanya. Hakikat cahaya adalah satu dan tanpa warna tetapi spektrum cahayanya ditangkap oleh mata manusia dalam kesan yang beraneka warna. Artinya, meskipun hakekat dari agama itu satu sebagaimana yang diuraikan dalam kesepuluh prinsip universalitas esoteris. Tetapi karena agama muncul dalam ruang dan waktu tidak secara simultan, maka pluralitas dan partikularitas bentuk dari bahasa agama tidak bisa dielakkan dalam realitas sejarah. Dengan kata lain, pesan kebenaran yang Absolut itu bersimbiose dan berpartisipasi dalam dialektika sejarah. Itulah sebabnya secara eksoterik-historis agama tampil dalam berbagai wajah, namun pada ranah esoterik-transhistoris agama pada dasarnya satu karena berasal dari realitas trans-historis yang tak mengenal partikularitas dan pluralitas. Dalam konsep eskatologis, karena filsafat perennial memandang semua agama menuju pada tujuan yang sama dan berdasar pada kearifan dan kebanaran yang sama pula. Maka akan terbangun sikap pluralis karena memandang keselamatan eskatologis terbuka untuk seluruh manusia, dari berbagai latar belakang agama maupun keyakinan.
Dengan memahami kesatuan agama secara substansial, maka filsafat perennial akan mengantarkan kita untuk memahami agama -meminjam istilah Alport- secara intrinsik dan tidak beragama menurut pola ekstrinsik. Pola keberagamaan intrinsik kan mengantarkan kita untuk selalu memaknai dan menghayati agama secara obyektif dalam ranah kehidupan kita. Secara sosiologis hal ini akan membuat kita senantiasa bersikap arif dan menghargai terhadap berbagai perbedaan yang tampak dengan orang lain. Ruang dialog, saling memahami, kerjasama, dan persaudaraan sebagai perwujudan konsep pluralisme akan lebih mudah untuk terbangun dalam ranah kehidupan sosial umat beragama yang berbeda.
Dalam konteks membangun tatanan kemanusiaan yang ideal, filsafat perennial akan mengantarkan manusia pada konsep pluralisme yang aktif, arif dan konstruktif. Aktif dalam artian, pluralisme yang terbangun tidak hanya sebatas pada koeksistensi pasif saja, melainkan sampai pada terbukanya kerjasama dan dialog yang aktif. Arif dalam artian, pluralisme yang terbangun tidak hanya berhenti pada toleransi semata, tapi pluralisme yang terbangun menghasilkan persaudaraan universal yang humanis tanpa dibatasi oleh sekat-sekat keyakinan. Selain itu pluralisme yang terbangun juga akan mengantarkan manusia untuk menghargai persamaan nilai-nilai universal dari semua agama. Konstruktif dalam artian pluralisme yang terbangun akan membentuk sistem-sistem sosial yang akan mengarahkan manusia pada sebuah kemajuan peradaban manusia yang humanis dan damai.
Sebagaimana dikatakan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamene’I (pemimpin spiritual Iran), pada suatu pertemuan agama-agama di Teheran. Pluralisme perennial berpandangan bahwa agama pada dasarnya menganggap keselamatan dan kesejahteraan umat manusia sebagai tujuan utamanya. Setiap agama pada dasarnya menampilkan “program” Tuhan kepada umat manusia sesuai dengan tuntutan zaman, ruang, dan kapasitas umatnya. Pembawa misi agama (para nabi dan pelanjut setianya) sebagian besar menanggung perjuangan berat dan panjang untuk menyampaikan dan merealisasikan misinya. Perjuangan dan dan jerih payah penuh keimanan ini ditujukan pada keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Dengan demikian dengan memahami merealisasikan konsepsi pluralisme perennial maka diharapkan akan terwujud tatanan sosial kemanusiaan yang ideal yang mengantarkan manusia pada pintu gerbang kejayaan peradaban yang humanis dan damai.


*) Penulis adalah Ketua Umum PD Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Kota Makassar (2008-2011) serta Ketua Umum Lembaga Dakwah dan Study Islam Al-Muntazhar (2005-2007)