kuning

05.45 Posted In Edit This 0 Comments »

Yang ini mesti baca, rugi kalau nggak!

"Suatu saat, garam pernah menjadi benda yang begitu berharga. Sekarang garam begitu murah sehingga dibuang-buang orang. Pernahkah kau berpikir, bahwa sesuatu yang kita anggap sangat berharga sekarang, bisa saja tidak berharga sama sekali? Lalu sesuatu yang kita anggap tidak berharga, bisa saja sangat berharga sekali?"

Seumur hidupnya, Regina selalu memaksakan kehendak. Semua harus berjalan menurut yang ia mau. Dan tanpa sadar, hal itu membuat banyak kepahitan dan penderitaan yang terus ia alami. Lalu ia bertemu dengan Donny, seorang pecandu dan pengedar narkoba, pembunuh, juga terlibat dalam jaringan teroris berskala internasional. Kedua insan itu secara tidak masuk akal jatuh cinta satu sama lain. Dan racun membinasakan racun. Luka saling menyembuhkan luka. Keduanya bergelut dengan dunia masing-masing untuk menemukan panggilan mereka yang sesungguhnya. Regina, adalah si Kuning yang punya panggilan besar dalam hidupnya. Nafsu dan ambisinya telah mengantarnya bertransformasi seperti burung rajawali. Kekurangannya ternyata merupakan kekuatannya yang terbesar. Akankah waktu mempertemukan mereka kembali? Atau sebuah panggilan bisa mengalahkan cinta?

Kumpulan Puisi

23.59 Edit This 0 Comments »

MUNAJAT

Tuhan, Engkau terkadang menyapa hambaMu pada selimut asma kelembutanMu
juga terkadang menyapanya dengan dekapan kehangatanMu

Namun semua tiada berbekas
Karena diri telah lebih dahulu membuat tembok kepompong durja, kelam .....hitam yang tak terlukiskan.
TUHAN,.....
Kini kembali diri mengetuk pintu harapMu
Di lembar lembar munajah yang di tuliskan oleh sang kekasihMu
Sembari mengharap cemas di kerahiman asmaMu
Dan prasangkaku padaMu....................

Tuhan,..............
Satu hal yang mermbuat lidahku keluh melafalkan kalimat kesempurnaanMu
Adalah Engkau yang tak bosan-bosan mendengarkan keluh kesahku
seakan engkau butuh akan semua itu
adalah anugrah yang tak putus-putus yang engkau persembahkan
seakan aku adalah pilihanMu

Tuhan,........
Telah banyak aib dan kelalaian yang engkau tutupi dariku di dunia ini
Hingga makhlukmu pun berdecak kagum dikepongahan dan perihnya keriya’an membelaiku
Padahal diakhirat kelak
Aku sungguh lebih membutuhkan semua anugrah itu
Banyak sudah kelapangan Engkau hamparkan dihadapanku
Padahal diakhirat kelak
Hanya SyafaatMu tempatku bertumpu

Tuhan,........
Berat sudah aku menerima semua itu
Namun diri tak sanggup pula menahan ringisan derita yang mendera
Akankah kau jatuhkan aku karenanya
Padahal ku tahu Engkau Maha Penyantun
Akankah Engkau dera aku dalam ketersiksaan yang tiada batas
Padahal engkau tahu dera nestapa yang berbatas pun aku tak mampu
Akankah kau asingkan aku dari cintaMu
Padahal aku memuja kekasihMu
Shalawat dan salam bagimu ya Mustafaa
Sudilah kelak kau kunjungi daku
Walau sekejap

Pabbentengan 29 Mei 2007


BUKAKANKAH RAKYAT

Desus angin menrpa tubuh yang lesuh
Secerca sinar matahari beri penawar lesuh
Tuk menatap hari penuh harap......

Detak waktu kian berputar yang enggang menoleh
Meninggalkan banyak luka dan duka
Ya..duka dari rakyat kecil
Yang kian hari makin tertindas

Ditengah celoteh para penguasa
Janji yang penuh dengan kemunafikan

Kini jiwa terasa sunyi senyap
Diantara tetesan keringat rakyat kecil dalam memperthankan hidup
Diantara penguasa yang sibuk mengurusi kekuasaanya

Bukankah kekuasan itu untuk rakyat
Bukankah mereka hadir karena rakyat
Bukankah mereka digaji oleh tetesan keringat rakyat
Namun.....

Semuanya telah lupa
Semuanya telah sirna brsama kerakusan akan kekuasaan

Manuruki 30 Mei 2007-06-25



















ALAM MAKNA

Benak Mengarungi Alam
Diantara titik keburaman makna
Perjalanan kian panjang
Menuju puncak tertinggi

Lahir tanya dalam benak
Dimanakah titik makna
Diantara makna-makna yang ada
Di Alam

Kini senja kian mendekat
Meninggalkan diri
Terperosot dalam dasar kehampaan

Oh....pemilik makna
Bukalah hakiakat maknamu
Dalam menuntun jiwa yang gelap
Dalam menuntun jiwa yang lelap tertidur
Tuk mengarungi alam maknaMU

Alauddin 1 Mei 2007
























HARAP TAK LELAH

Sunyi senyap menemani lelah
Menghampiri titik nadi
Lelah memuakkan
Muak pada realitas berkelas

Realitas kemunafikan dengan bahasa kebohongan
Harapan palsu dari penguasa
Dari benteng-benteng kekuasaan
Ilusi-ilusi lahir menjadi obat bius
Tanpa tersadari merasuk nadi
Hingga kata “YA” mudah terucap
Untuk kezaliman

Kini lelah menyapa
Diantara derita anak negeri
Yang kian tak bernyali
Diam dan pasrah pemandangan negeri ini

Mungkinkah harap bisa jadi sandaran
Mungkinkah munajat bisa menjadi kekuatan
Tuk melawan lelah
Tuk tetap ada pada kata “TIDAK”
Demi cita perubahan......!!!



Kampus UNM 3 Mei 2007

























NESTAPA

Dalam rintihan anak bangsa
Dendang lagu jadi pelipur lara
Lara terbahasakan melalui irama lagu

Anak negeri kian didera nestapa
Yang bertebaran diatas bumi yang kaya
Menghadapkan tapak tangan keatas mengharap
Ada yang memberi sentuhan

Dalam deraa nestapamu anak negeri
Kuingin menyentuhmu
Dengan sentuhan berarti
Kuingin bersamu dalam deraanmu

Losari 5 Mei 2007






























WAJAH PENDIDIKAN

Bagaimana lagi kita bisa memnggambarkan
Wajah pendidikan negeri ini
Guru yang memukuli siswa
Dosesn menjual diktat
Biaya yang mencekik leher

Semuanya terbinkai
Atas nama kedisplinan
Atas nama kualitas
Namun........
Semua itu kemunafikan
Oleh mereka yang katanya bermoral

Seperti itu yang yang katakan bermoral
Sepeti itukah yang dikatakan memanusiakan
Semua itu terjawab dengan kebohongan


Manuruki 7 Juni 2007
























DIMANA

Malam menyelimuti bumi
Malam dingin menusuk sanubari
Kududuk diantara keresahan-keresahan

Malam terus berlalu
Diantara lelapnya penguasa
Diatara tetesan keringat anak jalan
Tuk bertahan hidup malam dan esok hari

Lelap penguasa dengan mimpi kekuasaanya
Diantara duka dan suka cita akan negeri
Diantara kepingan-kepingan asa anak negeri
Terbesit tanya.................

Dimana kekuasaan untuk rakyat
Dimana bumi yang kaya
Dimana...dimana.....dimana hak untuk rakyat



























TEGAR

Duduk Terpaku menatap prahara negeri ini
Diantara bisikan-bisikan suci
Kuingin tetap tegar menatap prahara
Walau kutahu penguasa dinegeri telah lupa
Karena tumpukan harta......lupa karena kekuasaan

Tapi kuingin tetap tegar
Karena bisika-bisikan nurani
Yang harus tetap disuarakan

Nurani tak pernah berdusta
Menginkari nurani adalah penginkaran
Terhadap kemanusiaan

Jangan pernah takut menyuarakan nurani
Tetaplah tegar.............
Walau prahara begitu banyak melintang
Tetaplah tegar............
Karena tegar adalah awal
Sebuah perubahan...

Rektorat Lama UNM, 23 Juni 2007




















UNTUKMU,...............
Dijendela hatiku
Kuteropong
Dirimu,
Pada jejak asa
Kuukir namamu
Tinta-tinta sejarah mencatat
Kau adalah kawan
Kau adalah saudara.................
Dijendela hatiku pula kuteropong dirimu
Dalam bingkai kedamaian
Entah engkau hadir dari mana
Tapi kucoba bertanya tentang dirimu
Engkau hadir dari dalam hatiku
Karena ideologi
Tapi.............
Ternyata itu bukan jaminan
Engkau pergi meninggalkkanku
Dalam perih dan luka yang mengangah.................
Hingga aku hanya mampu berkata selamat tinggal saudara

RAMAI

23.43 Edit This 0 Comments »

RAMAI

Bilik imajinasi menawarang jauh
Dalam perjalannya

Sejenak Duduk terpaku dalam kesendirian
Tetap terpaku hingga semakin sunyi

Sejenak berdiri melangkah berharap meninggalkan sunyi
Jalan jauh terpancar

Setitik cahaya terlihat
Berharap ramai

Namun sunyi lagi tampak
Letih imajinasi menarawang menghalau sunyi

Sejenak berhenti menarik nafas
Merenung dalam tarikan nafas

Bertanya pada sunyi
Namun jawab tetap sunyi

Aku sunyi tapi ramai
Engkau mencari ramai tapi sunyi tertemukan
Lampaui sunyi menemukan ramai


Papirus 16-02-2010
Lallang Salam

Filsafat Ketuhanan

09.27 Edit This 0 Comments »

Filsafat Ketuhanan
Oleh: Sabara Nuruddin

I. Pendahuluan
Tema tentang Tuhan termasuk tema yang sangat penting dalam pembahasan filsafat dan agama. Filsafat mencoba memahami tentang Tuhan dengan pendekatan rasio, sedangkan agama menerima keberadaan Tuhan dengan pendekatan teks wahyu. Dua model dengan corak epistemologi yang berbeda, Filsafat bermula dari titik ragu, lalu membuat serangkaian pertanyaan tentang ada tidaknya realitas adikodrati di balik semesta ini. Jawabannya pun beraneka ragam, ada yang menerima ada pula yang menolak, ada pula yang memilih untuk bersikap agnostik. Demikian pula dalam kaitannya dengan “posisi” Tuhan dengan semesta, ada yang menganggap Dia identik dan adapula yang menganggap Dia tak identik dengan ciptaanNYA.
Dengan pendekatan teks wahyu, capaian dari agama-agama tentang Tuhan pun berbeda-beda. Meski semua agama meyakini bahwa Tuhan itu eksis sebagai kekuatan Adikodrati yang mencipta dan memelihara semesta. Namun, konsepsi tentang DIA tak pernah sama, jangankan antar agama, konsepsi tentang Tuhan dalam satu agama saja kerapkali melahirkan persepsi yang berbeda diantara pengikut-pengikutnya. Berikut ini adalah beberapa pandangan tentang Tuhan yang disari dari pahaman filsafat dan agama.
II. Pembahasan
A. Teisme
Teisme berasal dari kata theos (Tuhan) dan isme (paham). Teisme adalah pahaman yang meyakini akan adanya Tuhan. Selanjutnya teisme percaya bahwa Tuhan adalah pencipta dan pemelihara alam semesta. Mengenai jumlah Tuhan yang diyakini, kelompok teisme berbeda pendapat, setidaknya hal ini melahirkan tiga kelompok dalam teisme, yaitu:
1. Monoteisme. Yaitu kelompok yang meyakini Tuhan hanyalah Satu.
2. Dualisme. Yaitu kelompok yang meyakini Tuhan ada dua, seperti dalam keyakinan Zoroaster tentang Tuhan kebaikan (Ahura Mazda) dan tuhan Keburukan (Ahriman).
3. Polyteisme. Yaitu kelompok yang meyakini bahwa Tuhan ada banyak dalam perwujudan Dewa-dewa. Selanjutnya, pada tataran praktis penyembahan, kelompok ini terbagi atas dua kelompok. Yaitu,
- Henoteisme. Kelompok yang meyakini banyak Tuhan (Dewa), tapi secara praksis hanya menyembah salah satunya saja. Misalnya, kaum Hindu Syiwa, yang secara teologis meyakini konsep Trimurti (Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa), tapi menyembah hanya Dewa Syiwa saja.
- Katenoteisme. Keyakinan kaum polities, yang meyakini banyak Tuhan (Dewa) dan secara praksis menyembah semua Tuhan yang dia yakini.
- Politeisme pragmatis. Yaitu, keyakinan kaum polities, namun secara praksis menyembah Dewa/Tuhan sesuai dengan kebutuhannya saja. Misalnya dalam keadaan perang mereka sembah Dewa perang, tapi dalam keadaan musim tanam mereka sembah Dewa kesuburan, demikian seterusnya sesuai dengan kepentingan pragmatis-insidental mereka.
Dilihat dari pendekatan epistemiknya, kelompok teis terbagi atas tiga pendekatan dalam meyakini adanya Tuhan, yaitu:
1. Teisme filosofis, yaitu kelompok yang meyakini adanya Tuhan dengan berdasar pada pemahaman filsafat. Selanjutnya pendekatan filosofis ini terbagi lagi dalam tiga pendekatan yaitu:
- Teisme ontologis, yaitu kaum filosof yang meyakini adanya Tuhan dengan pendekatan ontologism. Misalnya Aristoteles dengan konsep prime causenya atau para filosof muslim dengan konsep Wajib al-Wujud.
- Teisme etis. Yaitu filosof yang meyakini adanya Tuhan dengan pendekatan etik. Misalnya Immanuel Kant yang meyakini adanya Tuhan, karena tanpa Tuhan maka perbuatan manusia pun tak bernilai. Dengan kata lain, Tuhan “dihadirkan” untuk memberi nilai pada perbuatan manusia.
- Teisme pragmatis/spekulatif. Yaitu pandangan teisme yang didasarkan pada pertimbangan pragmatis-spekulatif. Ini akan kita temukan dalam pernyataan Blaise Pascal, ia menyatakan “jika Tuhan tidak ada, maka tak bermasalah jika kita meyakininya, namun jika ternyata Tuhan itu ada, maka beruntunglah bagi kita yang meyakininya”.
2. Teisme saintifik. Pandangan teisme yang didasarkan pada pendekatan saintifik, penemuan-penemuan saintifik mengantarkan para saintis untuk meyakini adanya Realitas Adikodrati di balik realitas alam fisis.
3. Teisme agama. Pandangan teisme yang didasarkan pada teks-teks agama yang diyakini sebagai wahyu dari Tuhan.
B. Ateisme
Ateisme adalah konsep tentang pengingkaran akan eksistensi Tuhan sebagai Realitas Adikodrati yang menciptakan alam semesta. Secara epistemik, ateisme terbagi dalam tiga corak epistemik .
1. Ateisme Saintifik. Kelompok ateis yang mendasarkan pandangan ateisnya pada pandangan-pandangan sains. Misalnya ilmuwan Prancis, Julian Offery de Lamterie dengan konsep “l’homme machine”. Dia meyakini bahwa sejatinya manusia tak ubahnya sebuah mesin yang telah lengkap dengan jejaring mekanisnya, demikian pula dengan alam semesta. Sehingga tak ada tempat buat Tuhan yang transenden.
2. Ateisme Filosofis. Yaitu kaum filosof ateistik yang berpandangan bahwa Tuhan hanyalah hasil proyeksi akal manusia saja. Seperti Ludwig Van Feurbach dengan tesisnya, “theology is anthropology”. Yang singkatnya berarti bahwa Tuhan tak lebih dari persepsi manusia tentang dirinya sendiri yang “dilemparkan” keluar menjadi the other dan berbeda secara vis a vis dengan manusia.
3. Ateisme Romantik. Adalah kelompok ateis yang mendasarkan konsep ateismenya pada fenomena yang bersifat romantik dari kehidupan manusia. Kesenjangan social, keadilan, dan absurditas kehidupan yang menjadi dasar bagi hadirnya konsep ateisme ini. Misalnya, Fredereich Wilhelm Nietzsche dan Albert Camus.
C. Deisme
Deisme berasal dari kata dues (Tuhan). Deisme adalah pandangan yang meyakini eksistensi Tuhan sebagai pencipta, namun mengingkari eksistensiNya sebagai pemelihara. Dalam keyakinan kaum deis, Tuhan telah menciptakan lengkap dengan hokum-hukumnya yang bersifat pasti, jadi Tuhan tak perlu lagi mengurusi alam semesta. Kelompok ini terkenal dengan teori “pembuat jam”. Kelompok deis berkembang di Inggris dengan tokoh-tokohnya, Thomas Hobbes dan John Locke.
D. Agnotisisme
Agnostisisme berasal dari bahasa Yunani agnostos yang berarti tidak diketahui atau tidak bias diketahui. Agnotisisme adalah paham yang menyatakan bahwa tidak mungkin kita mengetahui tentang Tuhan, atau kelomppok yang berpandangan bahwa keyakinan tentang Tuhan adalah suatu hal yang tak penting. Argumen tentang agnostisisme diajukan oleh seorang filosof kontemporer Prancis, Andre Comte-Spronville. Dia menyatakan, bahwa bagaimana mungkin kita bisa mengetahui tentang Tuhan sedangkan postulat-postulat awal yang kita susun tentangNYA adalah postulat yang menegasi pengetahuan kita. Tuhan tidak terjangkau, Tuhan tak terbatas, Tuhan tak terdefenisi, dan lain-lain. Bagaimana mungkin kita bisa mengetahui tentang realitas yang tak terjangkau, tak terbatas, dan terdefenisi?. Oleh karena itu, pengetahuan tentang Tuhan adalah sesuatu yang tak mungkin, maka mengimaninya adalah sesuatu yang tak penting, karena bagaimana mungkin kita bisa mengimani suatu sosok yang tak bisa kita ketahui?. Pada tataran praksis, kaum agnostic bersikap, percaya tidak percaya tentang eksistensi Tuhan.
E. Panteisme
Panteisme berasal dari kata pan yang berarti kesatuan dan teisme. Secara terminology panteisme berarti paham yang menyatakan bahwa Tuhan menyatu atau identik dengan alam. Paham panteisme terdapat dalam tradisi filsafat Barat maupun filsafat Timur. Keduanya memiliki perbedaan secara ontologism dalam memahami kesatuan antara Tuhan dan alam. Panteisme dalam filsafat Barat, tokohnya adalah Baruch Spinoza dan istilah panteisme sendiri diperkenalkan oleh Toland. Spinoza terkenal dengan dictum filsafatnya, “natura naturans, naturans naturata” yang artinya “alam yang menjadikan dan alam yang dijadikan”. Dalam filsafatnya, Spinoza menyatakan bahwa Tuhan adalah alam, keduanya bukan berhadap-hadapan sebagai pencipta dan ciptaan, melainkan antara keseluruhan dan bagian. Sedangkan Toland berpandangan bahwa Tuhan tidak dibatasi oleh ruang tertentu, oleh karena itu semua yang ada di dunia ini adalah Tuhan.
Berbeda dengan panteisme Barat, Panteisme Timur yang terdapat dalam filsafat Hinduisme, dikenal dengan dictum, “tat swam asi” “kau adalah Dia”. Dalam filsafat Hindu, semesta meupakan pancaran dari Brahman atau Tuhan. Dari pancaran inilah hadir alam semesta dan alam semesta yang lahir dari pancaranNya adalah identik dengan Dia. Dari paparan di atas terlihat jelas perbedaan ontologism antara panteisme Barat yang lebih menekankan aspek kosmosentris sedangkan panteisme Timur yang lebih menekankan sisi teosentris.
F. Panenteisme
Panenteisme berasal dari kata, pan, en dan teisme. en berarti dalam, jadi secara etimologis, panenteisme berarti “all/one in God”. Atau “satu/semua dalam Tuhan”. Filsafat panenteisme menyatakan bahwa Tuhan adalah kesadaran jagad raya, tapi tidak serta merta bisa dikatakan bahwa Tuhan adalah identik dengan jagad raya. Tuhan dianggap transenden sekaligus immanen. Tokoh panenteis dalam filsafat Barat adalah KCF. Krause dan H. Lotze. Pandangan panenteis juga dikenal dalam tradisi filsafat Islam yang meyakini bahwa Tuhan adalah modus existence dari alam semesta tapi tidak bisa disinonimkan dengan alam semesta. Pernyataan yang menyiratkan pandangan panentes terdapat pada khotbah Ali bin Abi Thalib dalam Nahj al-Balaghah: “Dia dekat tapi bukan kedekatan fisik, Dia bersama tapi tidak bercampur, Dia jauh tapi tak berjarak, Dia berada di dalam sesuatu tapi tak seperti sesuatu di dalam sesuatu, Dia berada di luar sesuatu tapi tak seperti sesuatu di luar sesuatu”.
G. Transendensialisme
Transendensialisme berasal dari kata transcendent yang berarti jauh atau melampaui. Transendensialisme adalah pandangan atau keyakini yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Sosok yang jauh, terpisah, dan tak terjangkau oleh manusia. Dia bersemayam di suatu tempat yang tinggi. Pandangan dan keyakinan ini banyak dianut oleh kelompok agama yang berepistemologi tekstualis dalam memahami pesan-pesan wahyu dalam teks suci mereka.
H. Tuhan dalam Pandangan Filsafat Islam
Dalam pandangan filosof muslim, setidaknya Tuhan di persepsi dalam empat konsepsi filosofis, yaitu:
1. Tuhan sebagai Sebab Pertama (al-‘Illat al’Ula). al-Kindi mempersepsi Tuhan sebagai sebab pertama beranjak dari pandangan bahwa satu kejadian tak mungkin terjadi karena dirinya sendiri, tetapi terjadi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain itulah yang disebut sebab. Dan dalam rentetan kausalitas itu, Tuhan merupakan sebab pertama yang menunjukkan bahwa Dia adalah sebab paling awal dan fundamental dari semua sebab.
2. Tuhan sebagai Wujud Niscaya (Wajib al-Wujud). Menurut Ibnu Sina, tuhan adalah Wajib al-Wujud, sedangkan selainNya adalah mimkin al-wujud (wujud mungkin). Yang dimaksud Wajib al-Wujud adalah Wujud yang senantiasa ada atau Wujud yang senantiasa aktual.
3. Tuhan sebagai Cahaya (Nur al-Anwar). Ini adalah pandangan Syihab al-Din Suhrawardi al-Maqtul dan ini menjadi dasar dalam filsafatnya (al-Hikmah al-Israqiyah). Suhrawardi memandang bahwa Tuhan adalah Cahaya di atas segala cahaya.yang menghadirkan cahaya-cahaya yang lain dalam tingkatan-tingkatan alam semesta.
4. Tuhan sebagai Wujud Murni. Ini merupakan pandangan Mulla Shadra yang berpandangan bahwa Tuhan adalah Pure Being yang berarti Wujud yang tak bercampur dengan esensi (mahiyah) sebagaimana wujud-wujud yang lain.
III. Penutup
Blaise Pascal menyatakan, yang membedakan antara, le’ Dieu d’ Abraham dan le Dieu des philosophes (Tuhan Abraham dan Tuhan filsuf). Pembedaan ini didasarkan pada perbedaan antara hati yang menerima secara pribadi Tuhan yang diajarkan oleh Abraham (agama), dan nalar yang dengannya para filsuf memikirkan dan berbicara tentang Tuhan. Namun sesungguhnya. Tuhannya orang beragama itulah juga Tuhannya kaum filsuf, bahkan yang ditolak oleh kaum ateis pun sesungguhnya bukan Tuhan, tapi yang mereka tolak adalah konsep mereka sendiri tentang Tuhan. Dan sebagaimana kata Ludwig Witgenstein “Tuhan tetaplah Tuhan, yang untuk mengungkapkanNya adalah di luar kuasa bahasa dan tanda.”

Daftar Pustaka

Adian, Donny Gahral. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra. 2006

Berth, Keith. Introduction to Hinduism Philosophy. London: Routledge. 2007

Gazalba, Sidi. Sistematika Filsafat Jilid III. Jakarta: PT. Bulan Bintang. 1983.

Gilson, Etienne. God and Philosophy. Diterjemahkan oleh Silvestor Galidos Sukur dengan Judul Tuhan Di Mata Para Filosof. Bandung: Mizan. 2004.

Izutsu, Toshiko. God and Man in the Koran. Diterjemahkan oleh Agus Fahri Husein dkk dengan Judul Relasi Tuhan dan Manusia. Yogyakarta: Tiara Wacana. 2002.

Kartanegara, Mulyadhi. Gerbang Kearifan. Jakarta: Penerbit Lentera Hati. 2005.

Master, Chad. Introduction to Philosophy of Religion. London: Routledge. 2009.

Radhi, Syarif. Nahj al-Balaghah. Diterjemahkan oleh Muhammad Hashem dengan Judul Mutiara Sastra Ali bin Abu Thalib Jilid I. Jakarta: al-Huda. 2009

Roth, John. K. the Problem of the Contemporery Philosophy and Religion. Diterjemahkan Oleh Alia Noer Zaman dengan Judul. Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat dan Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003.

Spronville, Andre Comte. Spirituality Without God. Diterjemahkan oleh Ullie Tauhida dengan Judul Spiritualitas Tanpa Tuhan. Jakarta: Alvabeta. 2007.

Tjahjadi, Simon Petrus. Tuhan Para Filosof dan Ilmuwan. Yogyakarta: Kanisius. 2002.

Trueblood, David. Philosophy af Religion. Diterjemahkan oleh HM. Rasjidi dengan Judul Filsafat Agama. Jakarta: PT. Bulan Bintang. 1990

Whitehead, Alfread North. Religion in the Maiking. Diterjemahkan oleh Alois Agus Nugroho dengan Judul Mencari Tuhan Sepanjang Zaman. Bandung: Mizn. 2009.