Kumpulan Puisi

23.59 Edit This 0 Comments »

MUNAJAT

Tuhan, Engkau terkadang menyapa hambaMu pada selimut asma kelembutanMu
juga terkadang menyapanya dengan dekapan kehangatanMu

Namun semua tiada berbekas
Karena diri telah lebih dahulu membuat tembok kepompong durja, kelam .....hitam yang tak terlukiskan.
TUHAN,.....
Kini kembali diri mengetuk pintu harapMu
Di lembar lembar munajah yang di tuliskan oleh sang kekasihMu
Sembari mengharap cemas di kerahiman asmaMu
Dan prasangkaku padaMu....................

Tuhan,..............
Satu hal yang mermbuat lidahku keluh melafalkan kalimat kesempurnaanMu
Adalah Engkau yang tak bosan-bosan mendengarkan keluh kesahku
seakan engkau butuh akan semua itu
adalah anugrah yang tak putus-putus yang engkau persembahkan
seakan aku adalah pilihanMu

Tuhan,........
Telah banyak aib dan kelalaian yang engkau tutupi dariku di dunia ini
Hingga makhlukmu pun berdecak kagum dikepongahan dan perihnya keriya’an membelaiku
Padahal diakhirat kelak
Aku sungguh lebih membutuhkan semua anugrah itu
Banyak sudah kelapangan Engkau hamparkan dihadapanku
Padahal diakhirat kelak
Hanya SyafaatMu tempatku bertumpu

Tuhan,........
Berat sudah aku menerima semua itu
Namun diri tak sanggup pula menahan ringisan derita yang mendera
Akankah kau jatuhkan aku karenanya
Padahal ku tahu Engkau Maha Penyantun
Akankah Engkau dera aku dalam ketersiksaan yang tiada batas
Padahal engkau tahu dera nestapa yang berbatas pun aku tak mampu
Akankah kau asingkan aku dari cintaMu
Padahal aku memuja kekasihMu
Shalawat dan salam bagimu ya Mustafaa
Sudilah kelak kau kunjungi daku
Walau sekejap

Pabbentengan 29 Mei 2007


BUKAKANKAH RAKYAT

Desus angin menrpa tubuh yang lesuh
Secerca sinar matahari beri penawar lesuh
Tuk menatap hari penuh harap......

Detak waktu kian berputar yang enggang menoleh
Meninggalkan banyak luka dan duka
Ya..duka dari rakyat kecil
Yang kian hari makin tertindas

Ditengah celoteh para penguasa
Janji yang penuh dengan kemunafikan

Kini jiwa terasa sunyi senyap
Diantara tetesan keringat rakyat kecil dalam memperthankan hidup
Diantara penguasa yang sibuk mengurusi kekuasaanya

Bukankah kekuasan itu untuk rakyat
Bukankah mereka hadir karena rakyat
Bukankah mereka digaji oleh tetesan keringat rakyat
Namun.....

Semuanya telah lupa
Semuanya telah sirna brsama kerakusan akan kekuasaan

Manuruki 30 Mei 2007-06-25



















ALAM MAKNA

Benak Mengarungi Alam
Diantara titik keburaman makna
Perjalanan kian panjang
Menuju puncak tertinggi

Lahir tanya dalam benak
Dimanakah titik makna
Diantara makna-makna yang ada
Di Alam

Kini senja kian mendekat
Meninggalkan diri
Terperosot dalam dasar kehampaan

Oh....pemilik makna
Bukalah hakiakat maknamu
Dalam menuntun jiwa yang gelap
Dalam menuntun jiwa yang lelap tertidur
Tuk mengarungi alam maknaMU

Alauddin 1 Mei 2007
























HARAP TAK LELAH

Sunyi senyap menemani lelah
Menghampiri titik nadi
Lelah memuakkan
Muak pada realitas berkelas

Realitas kemunafikan dengan bahasa kebohongan
Harapan palsu dari penguasa
Dari benteng-benteng kekuasaan
Ilusi-ilusi lahir menjadi obat bius
Tanpa tersadari merasuk nadi
Hingga kata “YA” mudah terucap
Untuk kezaliman

Kini lelah menyapa
Diantara derita anak negeri
Yang kian tak bernyali
Diam dan pasrah pemandangan negeri ini

Mungkinkah harap bisa jadi sandaran
Mungkinkah munajat bisa menjadi kekuatan
Tuk melawan lelah
Tuk tetap ada pada kata “TIDAK”
Demi cita perubahan......!!!



Kampus UNM 3 Mei 2007

























NESTAPA

Dalam rintihan anak bangsa
Dendang lagu jadi pelipur lara
Lara terbahasakan melalui irama lagu

Anak negeri kian didera nestapa
Yang bertebaran diatas bumi yang kaya
Menghadapkan tapak tangan keatas mengharap
Ada yang memberi sentuhan

Dalam deraa nestapamu anak negeri
Kuingin menyentuhmu
Dengan sentuhan berarti
Kuingin bersamu dalam deraanmu

Losari 5 Mei 2007






























WAJAH PENDIDIKAN

Bagaimana lagi kita bisa memnggambarkan
Wajah pendidikan negeri ini
Guru yang memukuli siswa
Dosesn menjual diktat
Biaya yang mencekik leher

Semuanya terbinkai
Atas nama kedisplinan
Atas nama kualitas
Namun........
Semua itu kemunafikan
Oleh mereka yang katanya bermoral

Seperti itu yang yang katakan bermoral
Sepeti itukah yang dikatakan memanusiakan
Semua itu terjawab dengan kebohongan


Manuruki 7 Juni 2007
























DIMANA

Malam menyelimuti bumi
Malam dingin menusuk sanubari
Kududuk diantara keresahan-keresahan

Malam terus berlalu
Diantara lelapnya penguasa
Diatara tetesan keringat anak jalan
Tuk bertahan hidup malam dan esok hari

Lelap penguasa dengan mimpi kekuasaanya
Diantara duka dan suka cita akan negeri
Diantara kepingan-kepingan asa anak negeri
Terbesit tanya.................

Dimana kekuasaan untuk rakyat
Dimana bumi yang kaya
Dimana...dimana.....dimana hak untuk rakyat



























TEGAR

Duduk Terpaku menatap prahara negeri ini
Diantara bisikan-bisikan suci
Kuingin tetap tegar menatap prahara
Walau kutahu penguasa dinegeri telah lupa
Karena tumpukan harta......lupa karena kekuasaan

Tapi kuingin tetap tegar
Karena bisika-bisikan nurani
Yang harus tetap disuarakan

Nurani tak pernah berdusta
Menginkari nurani adalah penginkaran
Terhadap kemanusiaan

Jangan pernah takut menyuarakan nurani
Tetaplah tegar.............
Walau prahara begitu banyak melintang
Tetaplah tegar............
Karena tegar adalah awal
Sebuah perubahan...

Rektorat Lama UNM, 23 Juni 2007




















UNTUKMU,...............
Dijendela hatiku
Kuteropong
Dirimu,
Pada jejak asa
Kuukir namamu
Tinta-tinta sejarah mencatat
Kau adalah kawan
Kau adalah saudara.................
Dijendela hatiku pula kuteropong dirimu
Dalam bingkai kedamaian
Entah engkau hadir dari mana
Tapi kucoba bertanya tentang dirimu
Engkau hadir dari dalam hatiku
Karena ideologi
Tapi.............
Ternyata itu bukan jaminan
Engkau pergi meninggalkkanku
Dalam perih dan luka yang mengangah.................
Hingga aku hanya mampu berkata selamat tinggal saudara

0 komentar: